| dc.description.abstract | Masalah yang dihadapi dalam perekatan kayu lapis dengan mempergunakan perekat fenol, khususnya fenol formal-dehida, pada venir kayu kamper dan keruing, mulai diketahui di Amerika, ketika mereka mulai banyak mempergunakan venir impor yang berasal dari Asia Tenggara, khusus-nya Malaysia dan Indonesia. (Wellons dan Krahmer, 1973).
Separuh dari contoh kayu lapis yang mengalami delaminasi, setelah diperiksa menunjukkan pengaruh dari faktor-faktor produksi yang tidak terkontrol seperti dried out glue lines; venir yang kasar dan starved glue lines sebagai akibat penetrasi bahan perekat secara berlebihan. Selanjutnya separuh lagi diidentifikasikan sebagai gejala unanchored glue lines. Di bawah mikroskop bentuknya sangat spesifik, yaitu venir terpisah dari glue lines tepat pada daerah antar permukaannya dengan meninggalkan bekas fenolik pada permukaan venir. Cacat ini jarang diketemukan sebelumnya dan menimbulkan berbagai spekulasi mengenai penyebabnya.
Salah satu penyebab utama yang mengganggu dalam perekatan tersebut adalah adanya pengaruh negatif dari zat ekstraktif yang dikandung jenis kayu tersebut. Dari beberapa penelitian terdahulu diketahui bahwa zat ekstraktif dapat merubah sifat perekat fenol formaldehida. Perubahan sifat tadi menyebabkan terganggunya daya adhesi bahan perekat terhadap permukaan venir kayu. (Nguyen, 1975; Abe dan Akimoto, 1976). ... | |