Show simple item record

dc.contributor.advisorHikmat, Agus
dc.contributor.advisorHadipoentyanti, Endang
dc.contributor.authorFarisa, Ulfah Zul
dc.date.accessioned2024-04-03T03:05:17Z
dc.date.available2024-04-03T03:05:17Z
dc.date.issued2012
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/144989
dc.description.abstractKesadaran masyarakat akan manfaat tumbuhan obat semakin besar. Namun, hal positif dari budaya "back to nature" ini sebagian besar masih memanfaatkan langsung dari alam yang menyebabkan tumbuhan obat menjadi langka. Oleh karena itu diperlukan upaya konservasi ex-situ untuk melestarikan spesies tumbuhan obat langka di luar habitat aslinya. Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) merupakan balai penelitian yang telah mengembangkan konservasi ex-situ tumbuhan obat langka. Penelitian ini Bertujuan mengkaji pengembangan konservasi ex-situ spesies tumbuhan obat Fangka dan mengidentifikasi tingkat keberhasilan daya tumbuh perbanyakannya. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli - Agustus 2011 di Balai Penelitian Fanaman Obat dan Aromatik (Balittro) Bogor dan Kebun Percobaan Gunung Putri, Cianjur. Objek penelitian adalah spesies tumbuhan obat langka di Balittro. Metode pengumpulan data mencakup metode observasi, wawancara dan studi Eteratur. Karakterisasi dan tahapan perbanyakan spesies tumbuhan obat langka dijelaskan secara deskriptif, tingkat keberhasilan daya tumbuh perbanyakan dihitung berdasarkan persentase daya tumbuh dan persentase kematian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sebelas spesies tumbuhan. obat langka yang berada di enam lokasi pengamatan (rumah kaca dan rumah atap Phranet, laboratorium kultur jaringan, petak pamer, Kebun Wisata Ilmiah 1, Kebun Wisata Ilmiah 2 dan KP Gunung Putri, Cianjur). Kesebelas spesies tersebut adalah Alstonia scholaris (pulai), Arcangelisia flava (akar kuning), Cinnamomum sintoc (sintok), Ficus deltoidea (tabat barito), Lunasia amara (sanrego), Oroxylum indicum (pongporang), Parkia roxburghii (kedawung), Pimpinella pruatjan (purwoceng), Piper retrofractum (cabe jawa), Rauvolfia serpentina (pule pandak) dan Stelechocarpus burahol (burahol). Tiga spesies yang sudah dilakukan upaya perbanyakannya yaitu tabat barito dengan kultur jaringan, purwoceng dengan biji dan cabe jawa dengan setek dari sulur panjat. Selain konservasi spesies (konservasi jenis), Balittro juga sudah mengembangkan konservasi genetik (plasma nutfah), hal ini ditunjukkan dengan aksesi sumber benih spesies tumbuhan obat langka yang merupakan hasil eksplorasi dari berbagai daerah di Indonesia. Eksplorasi plasma nutfah berupa pengambilan sampel bertujuan untuk mengumpulkan sebanyak mungkin variasi genetik dalam suatu spesies dan terdiri dari beberapa aksesi. Berdasarkan hasil pengamatan, tingkat keberhasilan daya tumbuh perbanyakan purwoceng di polibag mencapai 100%, purwoceng di lahan tanam sebesar 94% (terserang hama 6%), cabe jawa sebesar 83% (terserang jamur putih 1% dan mati 6%), tabat barito sebesar 76% (terserang hama 24%). Kesimpulan dari penelitian ini yaitu pengembangan konservasi ex-situ di Balittro mencakup konservasi spesies dan konservasi genetik. Tingkat keberhasilan daya tumbuh perbanyakan purwoceng lebih besar dari keberhasilan daya tumbuh perbanyakan Cabe jawa dan tabat barito.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcForestryid
dc.subject.ddcConservation of Forest Resources and Ecotourismid
dc.subject.ddcBogorid
dc.subject.ddcJawa Baratid
dc.titleKonservasi Ex-situ spesies tumbuhan obat langka di Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik (Balittro) Bogorid
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordEndangered medicinal plantsid
dc.subject.keywordEx-situ conservationid
dc.subject.keywordIMACRIid
dc.subject.keywordGermplasmid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record