Pengaruh terak baja (steel slag) dan kalsit terhadap erapan dan ketersediaan fosfat pada latosol (Dystropepts) dari Gunung Sindur, Bogor
Abstract
Pengapuran merupakan salah satu cara untuk mengatasi keracunan aluminium pada Latosol. Dengan pengapuran, aluminium dapat diendapkan sehingga efek keracunan dapat berkurang. Dolomit dan kalsit merupakan bahan pengapuran yang paling umum digunakan oleh petani. Selain kedua bahan pengapur tersebut, terak baja juga sering dipakai sebagi bahan pengapuran. Terak baja (steel slag) merupakan produk sampingan industri baja yang belum banyak dimanfaatkan di Indonesia. Menurut Suwarno (1998), terak baja Indonesia sama baiknya dengan terak baja Jepang dan juga terak baja Indonesia lebih baik daripada dolomit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian kalsit atau terak baja terhadap jerapan P pada Latosol, serta membandingkan efektivitas keduanya terhadap ketersediaan P pada tnah
tersebut.
Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilaksanakan dari bulan Desember 2000 sampai bulan Juli 2001. Perlakuan yang diberikan adalah empat taraf kalsit dan empat taraf terak baja, yaitu untuk kalsit diberi kode perlakuan CO(tanpa kalsit), C1(1 x Al-dd), C2(2 x Al-dd), ..dst

