Show simple item record

dc.contributor.advisorToelihera, Mozes R
dc.contributor.authorWalujo, Prasodjo
dc.date.accessioned2024-03-18T01:44:26Z
dc.date.available2024-03-18T01:44:26Z
dc.date.issued1987
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/142019
dc.description.abstractPenulisan skripsi ini bertujuan untuk mengumpulkan pengetahuan tentang inseminasi buatan pada kambing dimana bahan tulisan ini diperoleh dari kepustakaan yang ada. Salah satu cara untuk meningkatkan mutu dan populasi ternak, dalam hal ini ternak kambing, adalah dengan menggalakkan pelaksanaan inseminasi buatan yang disertai dengan penyerentakan berahi. Penggunaan semen cair dan semen beku pada inseminasi buatan, memberikan hasil kebuntingan yang tidak jauh berbeda antara keduanya. Hasil tersebut masih lebih rendah dibandingkan dengan menggunakan semen segar yang tidak diencerkan atau dengan kawin alam. Namun demikian penyim- panan semen dalam bentuk cair di dalam lemari pendingin ("chilled semen") apalagi dalam bentuk beku pada bejana berisi nitrogen cair dan tahan jauh lebih lama akan lebih meningkatkan efisiensi penggunaan pejantan unggul yang dapat dipakai untuk menginseminasi betina dalam jumlah yang jauh lebih banyak daripada kawin alam. Penggunaan bahan pengencer yang tepat, juga mempengaruhi hasil inseminasi. Bahan pengencer yang memberikan hasil baik berupa susu skim. Sedangkan bahan pengencer berkuning telur tidak baik dipakai sebagai bahan pengencer semen kambing. Penambahan gliserol pada bahan pengencer untuk pembuatan semen beku, merupakan cara terbaik untuk mengatasi terjadinya "cold shock" pada waktu semen dibekukan. Untuk memudahkan mendeteksi berahi pada kambing sebelum inseminasi, perlu dilakukan penyerentakan berahi. Penggunaan Prostaglandin F2α memberikan hasil yang cukup baik pada penyerentakan berahi kambing. Evaluasi hasil inseminasi di lapangan dilakukan dengan pengamatan berahi. Hewan betina yang tidak kembali minta kawin atau tidak berahi lagi dianggap bunting walaupun tidak mutlak demikian. Hasil inseminasi buatan yang diperoleh dari beberapa peneliti menunjukkan bahwa inseminasi dengan menggunakan semen cair menghasilkan angka kebuntingan rata-rata 50%, dengan semen beku angka kebuntingan rata-rata 60%, sedangkan melalui perkawinan alam diperoleh angka kebuntingan rata-rata 90 %...id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcInsementasi buatan pada kambingid
dc.titleInsementasi buatan pada kambingid
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record