Metoda Pembekuan Satu Tahap (One Step Method) Dan Pengaruhnya Terhadap Daya Tahan Hidup Embrio
Abstract
Menurut Supriatna (1933), metoda pembekuan embrio pade saat sekarang dikenal ada dua macam, 1) metoda pembekuan dengan metoda baku (Standard Method), yang dibagi lagi menjadi metoda yang indirekt dan direkt; 2) metoda pembekuan satu tahap (One-Step liethod).
Metoda pembekuan satu tahap ditemukan dan diperkenalkan oleh Leibo pada tahun 1982. Metoda ini menggunakan larutan sukrosa sebagai pengencer dan gliserol sebagai krioprotektan.
Daya tahan hidup (viability) embrio yang diperoleh dengan metoda pembekuan satu tahap adalah sekitar 60 sampai 70%, dengan memakai embrio yang berkwalitas baik (grade 1 dan 2), (Leibo, 1984). Hasil ini dibandingkan dengan yang diperoleh dengan metoda baku tidak terlalu banyak berbeda, yaitu sekitar 70%.
Conception Rate (CR), yang diperoleh dari embrio yang dibekukan dengan metoda satu tahap berdasarkan percobaan di lapangan oleh Leibo adalah 26 % dan Winninger 34,9% (Leibo, 1984). Sedangkan Cik yang diperoleh dari embrio yang dibekukan dengen metoda baku sekitar 35 sampai 40% (Farrand dan Elsden, 1986).
Faktor-faktor yang mempengaruhi angka CR selain dari metoda pembekuan dan pencairan adalah daya tahan hidup embrio, metoda transfer embrio (TE) yang digunakan, umur embrio, kwalitas embrio, persiapan dan manajemen resipien serta faktor-faktor lain yang tidak dapat diramalkan (Elsden, 1986).
Keuntungan dari pemakaian metoda pembekuan satu tahap ini selain prosesnya lebih sederhana, lebih mudah dan praktis dalam penggunaannya di lapangan, juga dalam pelaksanaannya dapat menekan biaya. Secara khusus biaya penga wetan dan secara umum biaya transfer embrio.
