Hydatidosis Pada Anjing
Abstract
Hydatidosis disebut juga echinococcosis merupakan penyakit parasiter yang menyerang hewan, disebabkan oleh genus Echinococcus dan salah satu spesies pada anjing yang bersifat kosmopolitan serta pernah timbul di Indonesia adalah Echinococcus granulosus.
Echinococcus granulosus merupakan cacing pita yang sangat kecil panjangnya hanya 2-5 mm, terdiri dari scolex, neck, dan 3-4 proglottid. Scolex mempunyai 4 sucker dan sebuah rostellum yang dilengkapi dengan 2 baris kait yang masing-masing terdiri dari 30 buah. Kait yang besar panjangnya 33.2-39.8 u sedangkan yang kecil 22.1-34 u. Proglottid yang pertama immature, yang kedua mature, dan yang ketiga proglottid gravid. Lubang kelamin terletak disebelah lateral berselang-seling tidak beraturan, testes berjumlah 38-52 buah. Ovariumnya berbentuk seperti ginjal dan uterusnya mempunyai diverticulum lateral. Jenis cacing ini yang ditemukan di Indonesia tidak mempunyai neck.
Siklus hidup E. granulosus memerlukan induk semang intermediate untuk perkembangan telur menjadi kista dan induk semang defenitif untuk perkembangan kista menjadi cacing dewasa. Domba merupakan hewan yang paling subur untuk perkembangan stadium kistanya dan bersama anjing kedua hewan ini memegang peranan penting dalam penyebaran penyakit ini.
Domba biasanya terinfeksi melalui makanan atau minuman yang
terkontaminasi telur cacing. Telur-telur yang tertelan ini
akan menetas menjadi oncosphere, lalu menembus dinding usus
masuk ke saluran limfe atau vena kecil di mesenterium yang
kemudian dengan aliran darah terbawa ke seluruh tubuh. Oncosphere ini biasanya menetap di hati dan paru-paru. Bila oncosphere telah berubah menjadi kista dan termakan oleh
anjing maka infeksi dapat berlangsung pada anjing hingga
mencapai bentuk cacing dewasa.
Penyakit ini telah tersebar di seluruh dunia, mencakup banyak hewan tanpa membedakan umur dan jenis kelamin. Menyebabkan kerugian ekonomi yang besar terhadap ternak bahkan dapat menyerang manusia. Akibat adanya kista adalah timbulnya kelemahan, anorexia, dyspnoe, kurus, dan akhirnya kematian dari induk semang.
Kebersihan lingkungan terutama yang berkaitan dengan anjing adalah tindakan pencegahan yang utama sedangkan tindakan pembedahan merupakan salah satu usaha yang agak memuaskan dalam penanganan penyakit ini.
