| dc.description.abstract | Pengelolaan pertanian tidak terlepas dari faktor iklim, tanah dan tanaman. Pengaruh faktor iklim dalam kaitannya dengan pertanian memerlukan serangkaian prakiraan keadaan iklim dalam jangka waktu yang panjang, sehingga dapat menjadi tolok ukur dalam menentukan langkah -langkah yang harus diambil untuk pengembangan pertanian. Pada umumnya tanaman kurang baik pertumbuhannya pada keadaan iklim yang tidak sesuai. Disamping itu iklim dapat dijadikan sebagai parameter untuk menentukan tempat dan saat tanam, waktu dan jumlah pemberian pupuk dan memprakirakan kemungkinan adanya serangan hama dan penyakit.
Sebegitu jauh tidak jarang iklim bersifat sebagai kendala dalam peningkatan produksi, hal ini disebabkan kekurangwaspadaan kita dalam mempertimbangkan dan memanfaatkan iklim.
Bertitik tolak pada masalah tersebut diatas, maka dalam praktek lapang ini dicoba untuk menentukan alternatif pola tanam melalui pendekatan agroklimat di desa Cikarawang, Bogor.
Desa Cikarawang terletak pada 106°45'34" Bujur Ti- mur dan 6°31'14" Lintang Selatan, pada ketinggian + 250 meter di atas permukaan laut. Menurut klasifikasi Smith dan Ferguson termasuk tipe iklim A, dengan rata-rata jeluk hujan bulanan tertinggi 447.8 mm pada bulan Januari dan terendah 247.1 mm pada bulan Agustus, suhu rata-rata harian antara 25°C sampai dengan 26°C, kelembaban rela- tif antara 81% hingga 91%, jenis tanah termasuk jenis Latosol Cokelat Kemerahan.
Lahan pertanian di desa Cikarawang dapat digolong- kan sebagai lahan beririgasi dan lahan tanpa irigasi. Sistim irigasi di desa Cikarawang bersumber dari proyek irigasi sederhana Cibanten.
Pola tanam pada lahan beririgasi dengan melakukan penanaman padi tiga kali setahun, sedangkan untuk lahan tanpa irigasi penanaman padi hanya satu sampai dua kali. Pada umumnya pola tanam untuk lahan tanpa irigasi sangat ditentukan oleh faktor ekonomi, sehingga penduduk cenderung beralih mata pencaharian yang dianggap lebih menguntungkan dibandingkan apabila menanam palawija. | id |