Kajian potensi tumbuhan obat di kawasan hutan Pt. Unocal Geothermal Indonesia Gunung Salak
View/ Open
Date
2003Author
Sugiana, Agis Nursyam
Zuhud, Ervizal A.M.
Siswoyo
Metadata
Show full item recordAbstract
PT. Unocal Geothermal Indonesia (UGI) Gunung Salak merupakan salah satu pihak yang selama ini diberi hak oleh pemerintah untuk mengelola kawasan hutan seluas 15.368,75 hektar di Gunung Salak. UGI Gunung Salak merupakan perusahaan yang bergerak dalam pemanfaatan uap panas bumi sebagai sumber energi listrik bagi pemenuhan kebutuhan energi listrik Jawa dan Bali. Dari keseluruhan wilayah hutan, yang dibuka untuk kegiatan produksi dan jalan hanya seluas 273,5 hektar. Sedangkan sisanya, selain sebagai habitat satwa, juga ditengarai mempunyai potensi yang cukup
besar sebagai sumber plasma nutfah tumbuhan obat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menginventarisasi tumbuhan yang potensial berkhasiat obat dan mengetahui potensi kandungan komponen bioaktif senyawa alkaloid, flavonoid, saponin, steroid/triterpenoid pada bagian akar, batang dan daun tumbuhan.
Penelitian ini dilakukan selama 5 bulan, yaitu dari bulan April-Agustus 2002 bertempat di kawasan hutan UGI Gunung Salak dan Laboratorium Kimia Hasil Hutan, Jurusan Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Kawasan hutan yang dijadikan sampel terdiri dari beberapa lokasi antara lain: Awi 3, Awi 7, Awi 8, Awi 9, Awi 11, Awi 13, Awi 14, Awi 16 dan Quarry. Sebagian besar dari lokasi tersebut merupakan lokasi pemantauan flora dan fauna PT. Unocal Geothermal Indonesia (UGI) Gunung Salak.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tumbuhan untuk pembuatan ekstrak spesimen, pereaksi-pereaksi (kristal merkuri khlorida, kristal kalium yodida, bismut subnitrat, pelarut khloroform, amonium hidroksida, asam khlorida, anhidra asam asetat, asam sulfat, kalium yodida, bubuk kholesterol, etanol, air suling, dan natrium hidroksida), serbuk kulit batang Kedawung (Parkia roxburghii), biji Mahoni (Swietenia macrophylla), dan daun Lidah Buaya (Aloe spec). Alat yang digunakan untuk analisis vegetasi antara lain meteran, parang, tali plastik, kompas Brunton, patok kayu, altimeter, dan tally sheet. Sedangkan untuk uji Fitokimia digunakan alat- alat berupa gelas piala, tabung reaksi, corong, gelas ukur, pemanas, neraca analitis,
kertas lakmus untuk pengukur pH, pipet tetes, kertas saring dan plat tetes. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis vegetasi dan uji fitokimia. Metode analisis vegetasi yang digunakan adalah metode garis berpetak, yang merupakan modifikasi metode jalur (belt transek). Pada metode ini, transek dibuat memanjang memotong garis kontur. Panjang transek pada inasing-masing lokasi adalah 200 m, kecuali di Awi 11 sepanjang 160 m. Dari hasil analisis vegetasi tersebut diperoleh data mengenai komposisi tumbuhan, nilai penting, keanekaragaman jenis, pola penyebaran, dan tingkat regenerasi. Sedangkan uji fitokimia dilakukan dengan melakukan pengujian komponen bioaktif yang terdiri dari alkaloid, flavonoid, saponin, dan steroid/triterpenoid pada bagian akar, kulit batang dan daun tumbuhan. ...
