View Item 
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Undergraduate Theses
      • UT - School of Veterinary Medicine and Biomedical Science
      • UT - Veterinary Clinic Reproduction and Pathology
      • View Item
      •   IPB Repository
      • Dissertations and Theses
      • Undergraduate Theses
      • UT - School of Veterinary Medicine and Biomedical Science
      • UT - Veterinary Clinic Reproduction and Pathology
      • View Item
      JavaScript is disabled for your browser. Some features of this site may not work without it.

      Aplikasi teknik radioimmunoassay sebagai alat pemeriksaan kebutuhan pada sapi melalui pengukuran kadar progesteron di dalam air susu

      Thumbnail
      View/Open
      Full text (4.593Mb)
      Date
      1987
      Author
      Saragih, Lamseng
      Partodihardjo, Soebadi
      Metadata
      Show full item record
      Abstract
      Pemeriksaan kebuntingan (PKB) diperlukan untuk memastikan apakah seekor ternak (sapi perah) bunting atau tidak setelah dikawinkan. PKB pada sapi dapat dilakukan melalui palpasi rektal terhadap korpus luteum (KL), pal- pasi rektal terhadap uterus dan isinya 60 hari setelah dikawinkan (IB) dengan ketepatan 95%, dan melalui pengukuran kadar progesteron dengan teknik radioimmunoassay (RIA) 21 - 24 hari setelah di IB melalui plasma darah dengan ketepatan 90% (Toelihere, 1985). Progesteron merupakan hormon reproduksi yang diproduksi KL dan plasenta dalam jumlah banyak pada sapi bunting, dan sedikit pada sapi tidak bunting. Memiliki berat molekul 300 - 400, termasuk kedalam kelompok hormon steroid. Atas dasar-dasar inilah PKB dilakukan. (Zarrow, 1968). Dasar-dasar teknik RIA diperkenalkan oleh Berson dan Yalow (1959) dalam pengukuran kadar insulin yang dilabel (ditandai) dengan radioaktif. Merupakan suatu analisa in vitro, berdasarkan reaksi ikatan antara antigen/hapten dengan antibodi spesifik, dan mampu mengukur kadar hormone sampai 10 pikogram/ml sampel (piko = 10-12). Hapten ada- lah suatu bahan yang tidak bersifat immunogenik, tetapi memiliki struktur yang khas, sehingga mampu berikatan de- ngan antibodi. Prinsip umum teknik RIA adalah persaingan antara hormon yang dilabel dengan yang tidak (sampel dan standar) untuk berikatan dengan antibodi. Dalam pengu- kuran progesteron, hormon tersebut bertindak sebagai hap- ten (Eisen, 1973; Niswender & Nett dalam Cole, 1977). Hormon yang dilabel diperoleh melalui proses radio- iodinasi dengan unsur 1125 atau 3 (tritium), dengan tek- nik Chloramin-T yang sering dipakai. Untuk pemakaian praktis, hormon yang dilabel dapat diperoleh sebagai ba- rang dagang yang disebut dengan Kit (Heap et al., 1981; Hunter dalam Weir, 1979). PKB melalui pengukuran kadar progesteron dapat dila- kukan melalui air susu atau darah. Sampel air susu lebih menguntungkan, karena pengambilan yang lebih mudah dan tidak perlu penambahan antikoagulan, dan kadar progeste- ron yang lebih tinggi dibanding darah (Scaramuzzi et al., 1981). Teknik ini telah dimanfaatkan secara komersil di….dst
      URI
      http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/139560
      Collections
      • UT - Veterinary Clinic Reproduction and Pathology [2186]

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository
        

       

      Browse

      All of IPB RepositoryCollectionsBy Issue DateAuthorsTitlesSubjectsThis CollectionBy Issue DateAuthorsTitlesSubjects

      My Account

      Login

      Application

      google store

      Copyright © 2020 Library of IPB University
      All rights reserved
      Contact Us | Send Feedback
      Indonesia DSpace Group 
      IPB University Scientific Repository
      UIN Syarif Hidayatullah Institutional Repository
      Universitas Jember Digital Repository