Show simple item record

dc.contributor.advisorBudiaman, Ahmad
dc.contributor.authorHendrawan, Ludi
dc.date.accessioned2024-02-21T03:28:14Z
dc.date.available2024-02-21T03:28:14Z
dc.date.issued2006
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/139390
dc.description.abstractErosi merupakan salah satu penyebab kerusakan tanah terbesar di Indonesia. Erosi dapat mengakibatkan longsor, penurunan kesuburan tanah, sedimentasi dan sebagainya. Melihat besarnya pengaruh yang ditimbulkan merupakan hal yang penting untuk menduga besarnya erosi yang terjadi. USLE (Universal Soil Loss Estimation) merupakan metode pendugaan erosi yang dikembangkan oleh Wischmeier dan Smith (1978) pada lahan pertanian di Amerika Utara. Tetapi, dalam perkembangannya USLE banyak digunakan untuk menduga erosi pada lahan kehutanan, pemukiman, jalan, daerah pertambangan dan sebagainya. Pengembangan model ini yang dikembangkan di luar daerah asalnya dalam kondisi yang berbeda dapat menghasilkan nilai prakiraan yang berbeda. Untuk mengetahui sejauh mana tingkat keakuratan metode USLE maka perlu dilakukan perbandingan dengan melakukan pengukuran erosi secara nyata di lapangan pada unit Stasiun Pengamatan Aliran Sungai (SPAS) yang terletak pada outlet suatu Daerah Aliran Sungai (DAS). Selain menduga erosi, dengan metode ini dapat diketahui karakteristik DAS melalui analisis hidrologi DAS tersebut. DAS Citarum dimana DTA Cilebak merupakan salah satu bagiannya, merupakan salah satu dari 60 DAS prioritas di Indonesia berdasarkan Keputusan Mentri Kehutanan No.284/KPTS II/1999. Oleh karena itu pendugaan erosi pada daerah ini dapat menjadi salah satu masukan untuk meningkatkan kelestarian DAS tersebut melalui upaya konservasi yang tepat dan optimal. Kondisi topografi didominasi oleh topografi bergelombang dengan luas 119,49 Ha (29,85%) sedangkan untuk penggunaan lahan didominasi oleh lahan ladang/tegalan seluas 151,460 Ha (39,07%). Curah hujan rata-rata tahun 2003- 2004 adalah sebesar 1403,7 mm dengan dengan rata-rata curah hujan bulanan sebesar 117 mm. Tanah didominasi oleh golongan Mollisol, Alfisol dan Inceptisol. Berdasarkan pendugaan parameter permukaan, pada bentuk curvature dan planform curvature didominasi nilai positif (44,43% dan 45,82%) sedangkan pada profil curvature didominasi nilai negatif (45,01%), hal ini mengindikasikan pada DTA Cilebak erosi yang dominan terjadi adalah erosi lembar dengan aliran yang membawa erosi tanah dapat mengalami deposisi dan mengendap pada permukaan tanah. Nilai positif pada planform curvature menunjukkan DTA Cilebak berada pada topografi berbukit. Kehilangan tanah karena erosi menggunakan metode USLE menghasilkan laju erosi rata-rata sebesar 28,74 ton/ha/th sedangkan dengan menggunakan Unit SPAS rata rata erosi yang dihasilkan adalah sebesar 5,78 ton/ha/tahun untuk tahun 2003-2004. Persamaan yang diperoleh dengan menggunakan kurva rating curve untuk menduga debit adalah Q = 177,828 x TMA264 dengan nilai koefisien ..dstid
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcKayu mangiumid
dc.subject.ddcAcacia mangium Wild.id
dc.subject.ddcTingkat pemanfaatanid
dc.subject.ddcJawa Baratid
dc.subject.ddcParungpanjangid
dc.subject.ddcBogorid
dc.subject.ddcBantenid
dc.titleTingkat pemanfaatan tebangan kayu mangium (Acacia mangium Wild.) pada hutan tanaman industri kayu pertukangan : studi kasus di BKPH Parungpanjang KPH Bogor Perum Perhutani Unit III Jawa Barat dan Bantenid
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record