Show simple item record

dc.contributor.advisorTampubolon, M.P
dc.contributor.authorRiantika, Dachni
dc.date.accessioned2024-02-20T03:03:31Z
dc.date.available2024-02-20T03:03:31Z
dc.date.issued1989
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/139085
dc.description.abstractToxoplasmosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi protozoa yaitu Toxoplasma gondii. Menurut Kudo (1960), Toxoplasma digolongkan dalam filum Protozoa, sub filum Plasmodroma, kelas Sporozoa, sub kelas Telosporidia, ordo Haemosporidia, famili Babesiidae dan genus Toxoplasma. Selanjutnya Levine et al. (1980) dalam Thomas Cheng (1986), memngklasifikasikan Toxoplasma sebagai berikut : filum Apicomplexa, kelas Sporozoa, sub kelas Coccidia, ordo Eucoccidiida dan sub ordo Eimiriina dengan genus Toxoplasma. Toxoplasma gondii berkembang biak secara seksual dan aseksual. Stadium seksual terjadi di dalam epitel usus ku- cing rumah dan famili Felidae lainnya, sedangkan perkembang biakkan secara aseksual terjadi pada induk semang antara yaitu carnivora, herbivora dan mamalia (Levine, 1973). Kucing mengeluarkan ookista yang belum bersporulasi dalam feses selama 3 10 hari. Hal Ini terjadi setelah kucing tersebut memakan tikus yang telah terinfeksi bradizoit atau trofozoit atau mencerna ookista (Dubey dan Frenkel, 1976 dalam Georgi, 1980). Induk semang antara dapat terinfeksi Toxoplasma gondii bila tertulari ookista bersporulasi dari feses kucing, takhi- zoit atau bradizoit yang terdapat dalam jaringan induk semang antara yang lain, dapat juga terjadi karena terinfeksi takhizoit melalui penularan secara transplasental (Soulsby 1982). Dalam imunitas terdapat satu hal yang menarik yaitu kemampuan Toxoplasma untuk bertahan dalam makrofag yang seca- ra umum dapat membunuh organisme ekstraselular. Menurut Ian Tizzard (1981), respon kekebalan yang perta- ma dari tubuh terhadap parasit Toxoplasma gondii adalah res- pon kekebalan selular (CMI response). Sebagian besar infeksi oleh Toxoplasma gondii tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas. Pada domba gejala klinis yang dapat terlihat berupa demam, dispnoe. tremor secara umum dan kadang-kadang terlihat adanya inkoordinasi gerak. Tetapi gejala yang paling umum terjadi adalah plasentitis diikuti abortus atau terjadi kematian foetus pada saat 3 atau 4 minggu terakhir dari kebuntingan. Selanjutnya pada domba gejala dari dikatakan juga gejala yang dapat terlihat betina adalah "circle walking" yang merupakan encephalitis (Soulsby, 1982)…dstid
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcBeberapa aspek toxoplasmosis pada dombaid
dc.titleBeberapa aspek toxoplasmosis pada dombaid
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record