Clustering Titik Panas Menggunakan Algoritme Varied Density Based Spatial Clustering Applications with Noise
Abstract
Titik panas merupakan suatu penanda terjadinya kebakaran hutan dan
lahan (karhutla) yang mendeteksi suatu lokasi dengan suhu yang relatif lebih
tinggi jika dibandingkan dengan sekitarnya. Data mining dapat diterapkan pada
analisis persebaran data titik panas dengan ukuran yang besar. Salah satu teknik
data mining adalah clustering yang melakukan pengelompokan data berdasarkan
kesamaannya. Algoritme clustering DBSCAN menggunakan kerapatan data
spatial untuk membentuk suatu cluster dengan parameter jarak spatial (Eps) dan
jumlah minimum pada objek (MinPts) yang berada di dalam jarak Eps. Kelebihan
pada DBSCAN adalah lebih efektif untuk mengolah basis data spasial yang
berukuran besar serta tahan terhadap titik noise. Di sisi lain, metode DBSCAN
mempunyai kekurangan ketika cluster memiliki densitas yang bervariasi. Untuk
mengatasi kekurangan tersebut, algoritme DBSCAN dimodifikasi untuk
menangani densitas yang bervariasi secara otomatis dengan mengadopsi metode
variated DBSCAN (VDBSCAN).
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan cluster titik panas MODIS
tahun 2020 menggunakan Varied Density Based Spatial Clustering Applications
with Noise (VDBSCAN). Data titik panas adalah data titik panas Moderate
Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) yang diperoleh dari Fire
Information for Resource Management System (FIRMS) National Aeronautics
and Space Administration (NASA). Data titik panas yang digunakan adalah
wilayah Provinsi Sumatera Selatan. Selanjutnya dilakukan menetukan cluster
menggunakan algoritme VDBSCAN dengan parameter Eps i (i = 1, 2, 3, …) dan
MinPts. Eps i (i = 1, 2, 3, …) merupakan radius maksimum ketetanggaan titik
panas dengan iterasi 1, 2, 3, … didapat dari ambang batas atas dan bawah dari kdist
plot. K-dist plot adalah plot dengan melihat perilaku jarak dari suatu titik ke
kth tetangga terdekat dan dihitung untuk semua titik data untuk beberapa k,
diurutkan dalam urutan menaik, dan kemudian menggunakan nilai yang
diurutkan. Selanjutnya dilihat dari perubahan yang signifikan dengan memilih
ambang batas atas 20000 meter dan ambang batas bawah 1000 meter, setelah itu
diatur perubahan yang signifikan yaitu 100 meter. Setelah menemukan
perubahan yang signifikan maka ditetapkan ambang batas atas 19.791,67 meter
dan ambang batas bawah 1481,95 meter. Berdasarkan batas bawah dan batas
atas tersebut dilakukan 61 iterasi untuk radius Eps i (i = 1, 2, 3, …, n). MinPts
yang merupakan jumlah minimum titik panas dalam area ketetanggaan dalam
radius Eps i (i = 1, 2, 3, …, n) dengan ditetapkan sebanyak 3.
Penelitian ini menghasilkan 33 cluster dengan cluster ke 0 (densitas
ditingkat iterasi 1) sampai dengan cluster ke 32 (densitas ditingkat iterasi 60 ) dan
poin yang tidak ditandai semua cluster densitas ditingkat iterasi / noise dengan
jumlah 58 titik panas. 33 cluster didapat dari hasil Eps i (i = 1, 2, 3, …, n) radius
berdasarkan iterasi, setelah itu setiap iterasi radius Eps i (i = 1, 2, 3, …, n)
diadopsi menggunakan algoritme DBSCAN dari cluster 0 densitas ditingkat
iterasi sampai cluster 32 densitas ditingkat iterasi. Kepadatan (densitas) tertinggi
terdapat pada cluster 0 densitas ditingkat iterasi 1 dengan radius / eps 1,48
kilometer dengan menghasilkan 30 cluster dan 179 jumlah titik panas sebesar 120,9
titik panas / km2 dan nilai indeks silhouette tertinggi pada cluster 3 densitas
ditingkat iterasi 4 dengan radius 3,3 kilometer menghasilkan 2 cluster dan 8 titik
panas dengan nilai 0,9856. Hasil dari penelitian ini dapat digunakan dalam
mengetahui bagaimana pengelompokan titik panas dengan densitas yang
bervariasi dan dapat membantu penguatan implementasi kebijakan dalam
pencegahan kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Sumatera Selatan.
