Produktivitas sapi bali di Sulawesi Selatan

Date
1990Author
Liwa, Abdul Muin
Mantojo, Harimurti
Partodihardjo, Soebadi
Gurnadi, R. Eddie
Mattjik, A. Ansori
Rasjid, Sjamsuddin
Metadata
Show full item recordAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui : (1) performans induk yang meliputi umur kawin dan beranak pertama, lama bunting, kawin kembali sesudah beranak, panen anak (calf crop), jarak beranak (calving interval); (2) pengaruh umur induk terhadap produksi susu, bobot lahir, laju pertum-buhan anak, bobot anak umur 4 dan 10 bulan; (3) korelasi bobot lahir dengan bobot induk, bobot lahir dengan bobot umur 120 dan 240 hari, ripitabilitas produksi susu dan bobot lahir serta beberapa faktor koreksi.
-Berdasarkan tujuan tersebut di atas, maka dilakukan se-rangkaian penelitian yang dimulai dengan penelitian pendahuluan dari bulan September 1985 Februari 1986. Menggunakan 5 ekor sapi yang baru beranak satu minggu, masing-masing kelas umur satu ekor. Produksi susu diperoleh dengan cara timbang-menetek timbang anak dan memerah induk langsung. Dilanjutkan dengan penelitian pokok dari bulan Maret 1986-Juli 1988. Menggunakan 139 ekor induk yang dipilih secara acak, menghasilkan 230 ekor anak yang dibedakan bobot lahirnya berdasarkan kelas umur induk.
Diantaranya 90 ekor induk diamati produksi susunya dengan pemerahan dan penimbangan anak setiap bulan selama 10 bulan. Sejumlah 929 ekor sapi Bali dara dan 333 ekor sapi Bali jantan muda pada umur yang sama dibedakan tinggi pundak berdasarkan daerah asal beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan. Dilakukan pengamatan terhadap produksi susu dan bobot lahir yang berurutan dari induk yang sama dan beberapa faktor koreksi.
Hasil pengamatan menunjukkan tinggi pundak secara biologis berturut-turut dari yang tertinggi adalah sapi dara dari kabupaten Sidrap, Soppeng, Pinrang dan Enrekang termasuk BMT, pada umur 1.0 3.25 tahun (GO-G2).
Pada umur 2.5 3.25 tahun (G2) secara statistik tinggi pundak sapi dara kabupaten Sidrap sangat nyata (P<0.01) lebih tinggi daripada sapi dara kabupaten Enrekang dan BMT. Dan nyata (P<0.05) lebih tinggi dari sapi dara kabupaten Soppeng dan Pinrang. Pada umur 3.0 3.5 tahun (G3) tinggi pundak sapi dara BMT masing-masing sangat nyata (P<0.01) dan nyata (P<0.05) lebih rendah dibanding dengan sapi dara kabupaten Soppeng dan Enrekang. Tinggi pundak sapi jantan muda berdasarkan daerah asal (Luwu, BMT dan Jeneponto) pada umur yang sama tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. ...
Collections
- DF - Animal Science [376]

