| dc.description.abstract | Hutan adalah hamparan lahan yang berisi komunitas tumbuhan yang
didominasi oleh pohon-pohon dan saling berinteraksi satu sama lain. Hutan
Penelitian Dramaga merupakan hutan tanaman yang terletak di Kelurahan Situ
Gede dan Bubulak, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor yang dikelola oleh
Badan Standardisasi Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BSILHK).
Penelitian mengenai komposisi jenis, struktur tegakan, dan produktivitas serasah
Hutan Penelitian Dramaga, Bogor, Jawa Barat belum pernah dilakukan
sebelumnya. Oleh karena itu, penelitian ini penting dilakukan untuk menganalisis
komposisi jenis, struktur tegakan dan produktivitas serasah, mengingat serasah
merupakan komponen penting dalam siklus hara di dalam ekosistem hutan. Hasil
penelitian ini diharapkan merupakan salah satu langkah yang dapat diusahakan
sebagai bahan pertimbangan dan acuan dalam melakukan pengelolaan Hutan
Penelitian Dramaga secara berkelanjutan.
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2023 sampai dengan April
2023. Lokasi penelitian adalah di Hutan Penelitian Dramaga, Bogor, Jawa Barat.
Secara geografis areal ini terletak antara 6o
32’59.04”- 6o
33’13.98”LS dan 106o
44’0.06”-106o
44’59.64”BT. Sampel serasah dikeringkan dengan oven di
Laboratorium Ekologi Hutan, Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan dan
Lingkungan IPB. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Bioteknologi
Lingkungan, PT. Biodiversitas Bioteknologi Indonesia Cilubang Nagrak,
Situgede, Bogor. Penentuan stasiun penelitian pengamatan lapangan dalam
penelitian ini dilakukan di dua petak pengamatan di Hutan Penelitian Dramaga
yaitu petak nomor 21 tegakan Hopea odorata tahun tanam 1956 dan petak nomor
38 tegakan Dipterocarpus retusus tahun tanam 1957. Setiap petak pengamatan
berukuran 50 m x 50 m dibagi menjadi 10 m x 10 m dengan metode grid untuk
pengambilan data komposisi jenis dan pengamatan produktivitas serasah.
Pengamatan vegetasi dilakukan dengan menggunakan metode grid. Lokasi
penelitian di bagi dengan metode grid dengan ukuran 10 m x 10 m, sehingga
didapatkan 25 plot pada masing-masing petak pengamatan. Pendugaan
produktivitas serasah dilakukan dengan menggunakan metode litter-trap. Pada
setiap petak pengamatan diletakkan 25 litter-trap berukuran 1 m x 1 m x 1,5 m.
Serasah yang terkumpul pada litter-trap diambil setiap seminggu sekali selama
empat bulan. Komponen-komponen serasah (daun, ranting, kulit, buah, bunga,
serangga/insect body) dipisahkan. Serasah dibawa ke laboratorium, ditimbang dan
dikeringkan di dalam oven suhu 105oC selama 24 jam sampai bobot kering
konstan. Serasah kering ditimbang (ketelitian 0,2 g) dengan menggunakan
timbangan analitik. Pengambilan sampel tanah dilakukan dikedua petak
pengamatan yaitu pada Petak 21 dan Petak 38. Tanah dibor menggunakan bor
tanah dengan kedalaman 20 cm pada 5 titik lokasi pada setiap petak pengamatan.
Kemudian sampel tanah pada disetiap petak pengamatan dikompositkan dan di
analisis ke Laboratorium. Kondisi lingkungan meliputi curah hujan dan kecepatan
angin diambil melalui data iklim yang berasal dari Stasiun Klimatologi Dramaga
Bogor.
Komposisi jenis dan famili tumbuhan di dua lokasi penelitian, baik di
Petak 21 maupun Petak 38 sangat bervariasi. Berdasarkan jumlah jenis yang
ditemukan, dapat dikatakan bahwa kedua lokasi penelitian tersebut mempunyai
keanekaragaman jenis tumbuhan yang berbeda. Petak 21 menunjukkan
keberhasilan dalam regenerasi tumbuhan, hal ini dikarenakan ketersediaan tingkat
permudaan (semai, pancang, tiang) yang mencukupi merupakan salah satu
prasyarat keberlangsungan regenerasi alami suatu ekosistem. Adapun di petak 38
keberhasilan dalam regenerasi di tingkat pohon. Struktur vegetasi pada kedua
lokasi juga memiliki pola yang sama, dimana pada struktur vertikal terdapat 4
layer atau stratum pohon dan sama-sama didominasi oleh pohon dengan tinggi
≥30 meter. Adapun untuk struktur horizontal, sebaran kelas diameter di kedua
lokasi menyebar normal.
Dugaan produktivitas serasah di petak 38 lebih besar dibandingkan dengan
petak 21, yaitu sebesar 47,67 g/m2
/bulan sedangkan dugaan produktivitas serasah
di Petak 21 sebesar 28,37 g/m2
/bulan. Komponen serasah yang paling dominan di
kedua petak adalah komponen daun, yaitu sekitar 82,33% (petak 21) dan 76,41%
(petak 38). Curah hujan dan kecepatan angin rata-rata tidak memiliki pengaruh
yang signifikan pada fluktuasi serasah di kedua lokasi. | id |