Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial di LMDH Mandalagiri Kecamatan Kadungora Kabupaten Garut
Abstract
Pengelolaan perhutanan sosial dilakukan oleh Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) yang telah memperoleh izin pengelolaan untuk melakukan kegiatan usaha di kawasan perhutanan sosial. KUPS diharapkan dapat meningkatkan perekonomian melalui penggunaan lahan secara optimal sehingga memperbaiki kebutuhan hidup masyarakat sekitar hutan. Peningkatan ekonomi yang dilakukan oleh LMDH Mandalagiri yaitu melalui pengelolaan hutan secara agroforestri yang mengkombinasikan antara tanaman pinus, eukaliptus, puspa, rasamala, suren, mahoni, kopi arabika, alpukat, jahe, dan cabai rawit. Pengelolaan perhutanan sosial meliputi kegiatan penyiapan lahan, pengadaan bibit, penanaman, pemeliharaan, pemanenan, dan pemasaran. Pengembangan usaha perhutanan sosial dilakukan dengan analisis deskriptif melalui analisis lembaga dan saluran pemasaran, analisis marjin pemasaran, analisis farmer’s share, dan analisis rasio keuntungan terhadap biaya. Berdasarkan hasil penelitian, saluran pemasaran yang paling efisien adalah saluran pemasaran komoditas perhutanan sosial model 2 dengan marjin pemasaran dan biaya pemasaran lebih rendah serta nilai farmer’s share dan rasio keuntungan terhadap biaya lebih tinggi dari saluran pemasaran komoditas perhutanan sosial model 1. Social forestry management is carried out by the Social Forestry Business Group (KUPS) which has obtained management permission to conduct business activities in social forestry areas. KUPS is expected to improve the economy through optimal land use to improve the living needs of the people around the forest. The economic improvement made by LMDH Mandalagiri is through agroforestry management that combines pine, eucalyptus, puspa, rasamala, suren, mahogany, arabica coffee, avocado, ginger and chili peppers. Social forestry management includes land management, seed procurement, planting, maintenance, harvesting, and marketing. The development of social forestry businesses is done by descriptive analysis through analysis of agencies and marketing channels, analysis of marketing margins, analysis of farmer's share, and analysis of profit-to-cost ratios. Based on the research results, the most efficient marketing channel is the model 2 social forestry commodity marketing channel with lower marketing margins and marketing costs as well as farmer's share value and profit-to-cost ratio higher than the model 1 social forestry commodity marketing channel.
Collections
- UT - Forest Management [3207]
