Show simple item record

dc.contributor.advisorDarmawan, I Wayan
dc.contributor.authorHidayah, Ririn Nurul
dc.date.accessioned2023-11-10T07:21:06Z
dc.date.available2023-11-10T07:21:06Z
dc.date.issued2015
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/131641
dc.description.abstractKayu sebagai sumber daya hutan yang penting telah diproses dalam jumlah yang besar untuk memenuhi kebutuhan manusia yang meningkat. Alternatif yang digunakan untuk menangani hal tersebut adalah dengan membangun dan mengembangkan hutan tanaman dan hutan rakyat. Pinus merupakan jenis tanaman Hutan Tanaman Industri (HTI) yang telah lama ditanam. Pemanfaatan kayu terutama untuk kayu pertukangan, keberadaan kayu juvenil kurang disukai karena sifat-sifatnya yang kurang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik kayu juvenil dan memperkirakan titik transisi kayu juvenil ke kayu dewasa pada batang Pinus dalam rangka pemanfaatan kayu yang lebih tepat. Pendekatan model regresi tersegmentasi digunakan untuk menggambarkan perkembangan kayu juvenil ke kayu dewasa, dan PROC NLIN pada SAS digunakan untuk mengidentifikasi titik mulai terbentuknya kayu dewasa. Satu pohon pinus berumur 30 tahun yang diambil dari hutan rakyat di Sukabumi, Jawa Barat digunakan untuk menentukan masa transisi kayu juvenil ke kayu dewasa pada Pinus. Disk dengan ketebalan 5 cm diambil pada ketinggian 1.3 meter (diameter setinggi dada) sebagai sampel pengukuran panjang serat, sudut mikrofibril (MFA), kadar air, kerapatan, berat jenis (BJ), dan penyusutan kayu. Log dengan tebal 35 cm diambil sebagi sampel MOE dan MOR. Kerapatan, BJ, kadar air dan penyusutan diukur dari empulur ke kulit menggunakan metode gravimetri. Panjang serat dan MFA diukur pada setiap lingkar tumbuh selebar 1 cm dari empulur ke kulit menggunakan metode maserasi dan mikrotom. Hasil analisis model regresi tersegmentasi pada bidang radial terhadap panjang serat dan MFA menunjukkan bahwa pada kayu pinus umur 30 tahun sudah terbentuk kayu dewasa pada segmen radial ke 15 berdasarkan panjang serat dan segmen radial ke 12 berdasarkan MFA. Panjang serat dan MFA dapat dijadikan indikator utama untuk menentukan titik transisi kayu juvenile ke kayu dewasa, walaupun titik transisi bervariasai antar sifat. Proporsi kayu juvenil pada pinus umur 30 tahun sebesar 61-77%.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.subject.ddcForestry-Forest Productid
dc.titleKarakteristik kayu juvenil dan kayu dewasa pada Pinus (Pinus merkusii Jungh. et de Vrid
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordJuvenile woodid
dc.subject.keywordmature woodid
dc.subject.keywordMFAid
dc.subject.keywordfibre lengthid
dc.subject.keywordpineid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record