| dc.description.abstract | Penetapan tingkat dekomposisi fibrik, hemik dan saprik sangat penting untuk menentukan sifat fisik dan kimia gambut, dan karena sedemikian pentingnya maka Soil Taxonomy menggunakan tingkat dekomposisi tersebut untuk membedakan tata nama gambut hingga tingkat subgroup. Walaupun sangat penting, tetapi penetapan volume serat yang digunakan justru bersifat kualitatif, yaitu metode Von Post, (1924)/metode lapang. Metode penetapan kadar serat yang lebih kuantitatif kemudian dikembangkan oleh Tim Soil Survey Staff (1975), dimana penetapan volume serat dilakukan dengan cara dimasukkan ke dalam syringe (tabung injeksi), namun metode ini sangat sulit diterapkan untuk gambut tropika yang masih banyak mengandung serat bemkuran sangat kasar.
Berdasarkan kelemahan-kelemahan dari metode-metode tersebut maka diajukan suatu metode untuk menilai tingkat dekornposisi gambut, yaitu berdasarkan distribusi ukuran partikel. Selain itu juga dilakukan analisis BJI dan kandungan C dalam tanah. Selanjutnya dilakukan analisis kadar abu pada fraksi utama dengan menggunakan DT A.
Basil penelitian menunjukkan bahwa penilaian tingkat dekomposisi gambut dengan distribusi ukuran partikel lebih kuantitatif dan mendekati kriteria penetapan tingkat dekomposisi Von Post untuk ukuran <5 cm. Adanya variasi distribusi ukuran partikel tidak menyebabkan variasi nilai BJI karena contoh gambut diambil dengan menggunakan contoh ring. Berdasarkan perhitungan volume sesungguhnya, kandungan C dalam tanah gambut pada lapisan teratas diperkirakan lebih rendah dari Andosol dan sedikit lebih tinggi dari Latosol. Korelasi kehilangan bobot karena pengabuan dan kandungan bahan organic menunjukkan bahwa nilai bahan organik dapat diprediksi secara cukup tepat melalui penetapan kadar abu. | id |