| dc.description.abstract | Pemilihan tanaman yang disesuaikan secara ekologis, mempunyai pertumbuhan yang cepat dan kayu yang dihasilkan memiliki manfaat yang beraneka ragam sangat menentukan kelangsungan dari sektor kehutanan. Salah satu jenis tanaman yang dianjurkan pemerintah untuk meningkatkan nilai produktivitas adalah sengon (Paraserianthes falcataria). Hal ini disebabkan karena pertumbuhannya yang cepat dengan riap yang besar sehingga mempunyai nilai ekonomi yang tinggi.
Faktor kedua yang mempengaruhi proses pertumbuhan tanaman adalah faktor lingkungan, khususnya unsur hara dan teknik silvikultur yang dilakukan. Keadaan ini penting karena pada umumnya pengusahaan hutan dilakukan di daerah-daerah kritis, seperti padang alang-alang yang umumnya mengandung sedikit unsur hara sehingga untuk merehabilitasikannya dilakukan penambahan hara dan usaha silvikultur yang dapat meningkatkan kualitas tanaman dan perbaikan unsur hara.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian unsur hara jenis boron dan cendawan endomikoriza terhadap pertumbuhan semai Paraserianthes falcataria (L) Nielsen dan memperbandingkan klon dari pohon plus sengon.
Metode penelitian yang digunakan yaitu: persiapan media tumbuh, perkecambahan benih, inokulasi spora cendawan endomikorhiza, pemupukan boron, pemeliharaan tanaman, isolasi spora cendawan endomikorhiza dan pewarnaan akar.
Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan pola faktorial 3 x 4 x 6 dengan lima kali ulangan. Faktor perlakuan pertama adalah cendawan endomikorhiza yang terdiri dari tiga jenis perlakuan, yaitu: MO tanpa inokulasi cendawan endomikorhiza; MI = inokulasi cendawan
endomikoriza jenis Glomus etunicatum; M2 = inokulasi cendawan endomikorhiza jenis Gigaspora
margarita. Faktor perlakuan kedua adalah dosis pupuk boron pada berbagai dosis, yaitu : B0 = tanpa
pemupukan Boron; B1 = dengan pemberian Boron 200 ppm; B2 = dengan pemberian Boron 400 ppm;
B3 = dengan pemberian Boron 600 ppm. Sedangkan faktor perlakuan ketiga adalah Klon pohon plus
Sengon dengan enam taraf, yaitu: K1, K2, K3, K4, K5 dan K6. Pada perlakuan yang memberikan
pengaruh yang nyata terhadap parameter yang diukur selanjutnya dilakukan uji Duncan. Pengamatan
dan pengukuran dilakukan terhadap parameter: tinggi, diameter, kekokohan, berat kering total, nisbah
pucuk akar, RFMD (Relative Field Mycorrhizal Dependency), jumlah spora dan persentase kolonisasi. | id |