| dc.description.abstract | Cagar Alam mempunyai fungsi pokok untuk pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa. Interaksi masyarakat terhadap kawasan dapat menyebabkan terjadinya penurunan kualitas dan kuantitas dari keanekaragaman plasma nutfah yang ada di dalamnya. Interaksi ini dapat berupa pemanfaatan jenis-jenis tumbuhan yang memberikan nilai manfaat bagi masyarakat di sekitar kawasan (tumbuhan penting). Informasi mengenai potensi dan keanekaragaman tum- buhan penting ini cukup berperan dalam menentukan pola penyusunan strategi pengelolaan flora dalam suatu kawasan konservasi.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis, dominansi jenis, keanekaragaman dan pola penyebaran dari jenis-jenis tumbuhan penting. Tumbuhan penting yang dimaksud dalam penelitian ini adalah jenis tumbuhan pada habitus pohon dan bambu yang memberikan nilai manfaat bagi masyarakat lokal disekitar kawasan pada saat ini. Hasil dari penelitian ini diharapkan sebagai bahan masukan bagi usaha manajemen kawasan Cagar Alam Cibanteng, dalam rangka mencapai tujuan pengelolaan kawasan konservasi.
Penelitian dilaksanakan di Kawasan Cagar Alam Cibanteng Kabupaten Sukabumi Jawa Barat, dari Bulan April sampai Bulan Mei 1998. Pengukuran data kuantitatif vegetasi dilakukan dengan analisis vegetasi melalui metode kombinasi jalur berpetak. Petak contoh berukuran 400 m² disepanjang transek yang diletakan secara sistematis dengan awal acak (Systematic Sampling with Random Start). Selanjutnya data dianalisis untuk memperoleh nilai INP, Indeks Keanekaragaman (Shannon Index of Diversity) dan Indeks Penyebaran Morisita.
Dari hasil analisis vegetasi, total jenis yang ditemukan 95 spesies. Pada tingkat semai, pancang, tiang dan pohon masing-masing ditemukan 48 jenis, 55 jenis, 38 jenis dan 71 jenis. Dari jenis tersebut ditemukan 22 jenis tumbuhan penting dari 15 famili, yang meliputi: 13 jenis sebagai bahan bangunan, 7 jenis sebagai penghasil buah, 1 jenis sebagai tumbuhan obat dan 1
jenis sebagai penunjang mata pencaharian (Bambu Haur Gereng). Jenis utama yang dimanfaatkan untuk bahan bangunan adalah Junti (Dillenia aurea), Harikukun (Schouternia ovata K), Beurih (Sterculia campanulata) dan Heras (Vitex pubescens). Tumbuhan sebagai bahan bangunan termasuk jenis-jenis yang mendominasi komunitas tum- buhan pada areal penelitian di Cagar Alam Cibanteng. Jenis Junti (Dilenia aurea) memiliki nilai dominansi tertinggi pada semua tingkat pertumbuhan dengan nilai INP masing-masing sebesar 29,895%, 47,450%, 82,814% dan 40,405%. Harikukun merupakan jenis kodominan pada tingkat pancang dan tiang, sedangkan Beurih merupakan tumbuhan kodominan pada tingkat pohon, dan Bungbulang tumbuhan kodominan pada tingkat semai. | id |