| dc.description.abstract | Laju deforestasi diperkirakan sekitar 1,6 juta hektar per tahun pada periode
1993-1999 dan meningkat tajam sebesar 2, I juta hektar per tahun pada periode
2000-2002. Sejak tahun 2003, laju deforestasi telah diperkirakan meningkat
menjadi 2,4 juta hektar per tahun (PT. Data Consult Inc. 2004).
Sementara itu jumlah penduduk semakin meningkat. Pertumbuhan
penduduk di Indonesia sekitar 2,5% per tahun. Peningkatan tersebut diprediksikas
lebih cepat daripada pemenuhan kebutuhan akan kayu di masa depan.
Hal tersebut berimplikasi pada peningkatan permintaan dan kebutuhan
akan panel komposit sebagai substitusi kayu solid. Bahan baku panel tersebut
dapat berupa bahan yang potensinya cukup besar tetapi masih terbatas atau belum
dimanfaatkan seperti limbah kayu dan karton. Secara teoritis, pemanfaatan kedua
jenis limbah sebagai bahan baku papan komposit sangat memungkinkan
(Massijaya 2004).
Pada penelitian terdahulu, telah dilakukan pembuatan prototype terbaik
dari limbah kayu dan karton gelombang. Namun diperlukan analisis finansial jika
produksi papan komposit tersebut dalam skala makro. Analisis finansial ini
dilakukan melalui pendekatan feasibility study selama 10 tahun dengan
mengambil data-data produksi, keuangan dan penjt:alan di perusahaan papan
partikel, yaitu PT. Paparti Pertama. Perusahaan yang terletak di Sukabumi Jawa
Barat ini, memproduksi papan partikel dari l:mbah kayu darj kayu sengon; kayu
karet, kayu afrika dan lain-lain.
Data teknis pembuatan papan komposit dalam skala lab, berupa kebutuhan
raw material, digunakan sebagai dasar untuk menghitung kebutuhan bahan baku
produksi. Sedangkan informasi proses produksi perusahaan digunakan sebagai
dasar pendekatan dalam memproduksi papan komposit secara massal dengan
adanya modifikasi proses sesuai kebutuhan. Papan komposit yang dibuat
berukuran 4' x 8' dengan ketebalan 1 cm .
Untuk data perusahaaP berupa data keuangan dan data penjualan,
digunakan sebagai dasar perhitungan untuk analisis finansial. Data keuangan dari
perusahaan di klasifikasi ulang dari biaya langsung dan tidak langsung ke dalam
konsep biaya tetap dan variabel. Sedangkan data volume penjitalan dijadikan
sebagai dasar perhitungan harga jual tertimbang. Analisis finansial yang dihitung
meliputi total biaya produksi, total penerimaan, keuntungan, net present value
(NPV), EiC ratio, break even point (BEP), harga pokok dan harga jual tertimbang
pada rate of return l 0%. Perhitungan tersebut dilakukan dengan asumsi bahwa
tidak ada perubahan inflasi secara besar-besaran, .kenaikan biaya produksi,
penurunan harga jual dan lain-lain.
Dalam investasi jangka panjang, selalu akan ada resiko yang timbul.
Resiko yang timbul dapat berupa kenaikan BBM, tarif dasar listrik, maupun
penurunan harga jual akibat adanya AFTA atau perdagangan bebas. | id |