Perencanaan jalur hijau jalan bebas hambatan Jakarta Tangerang
Abstract
Jalan tol Jakarta-Tangerang yang mulai dioperasikan 27 November 1984
mempunyai panjang 26,8 km. Jalan ini merupakan tahap I dari pembangunan jalan
tol Jakarta-Merak yang berjarak 117,8 km. Kehadiran jalan ini selain menimbulkan
dampak positif seperti perumahan, daerah industri dan berkembangnya perekonomian
juga mempengaruhi pemakai jalan tol. Untuk menanggulangi dampak yang tidak
diinginkan maka dilakukan studi yang bertujuan membuat perencanaan jalur hijau
pada jalan bebas hambatan Jakarta-Tangerang sehingga memberi kenyamanan bagi
pemakai jalan dan mengurangi kecelakaan akibat faktor fisik jalan dan kesalahan
manusia atau rasa bosan selama perjalanan dan meningkatkan kualitas lingkungan
sekitar.
Pendekatan studi yang digunakan adalah proses berpikir lengkap, merencana dan melaksana menurut Rachman (1984) yang terdiri dari tahapan inventarisasi, analisis, sintesis, konsep, perencanaan/perancangan, pelaksanaan dan pemeliharaan. Studi dibatasi sampai tahap perencanaan. Pengumpulan data di lapang dilakukan dari bulan Maret sampai Mei 1996.
Konsep perencanaan jalur hijau adalah untuk memberikan pelayanan kepada pemakai jalan sehingga menimbulkan kenyamanan, rekreasi visual dan rasa aman serta keindahan dengan membentuk daerah sisi jalan agar dapat melestarikan, meningkatkan dan memamerkan secara efektif keindahan alam dan lansekap sepanjang jalan. Penataan lansekap daerah sisi jalan dengan memanfaatkan potensi visual sepanjang jalan dan mengurangi dampak jalan terhadap wilayah yang dilalui.
Fungsi jalur hijau di sepanjang jalan bebas hambatan Jakarta-Tangerang adalah untuk mengurangi silau lampu kendaraan yang datang berlawanan pada malam hari terutama pada median, mengurangi kebisingan, menutupi obyek visual yang kurang menarik dan menciptakan vista pada obyek yang menarik, pengarah, efek bayangan, penahan angin, penyangga, fungsi estetis, mengurangi kecelakaan dan kebosanan pengemudi. Fungsi tersebut diterapkan pada daerah welcome area, median, simpang susun dan daerah milik jalan.
Tanaman yang digunakan berupa pohon, semak dan penutup tanah. Kriteria tanaman yang digunakan adalah mudah dipelihara, tahan serangan hama dan penyakit, tidak membahayakan lingkungan, bernilai estetis dan mampu hdup pada lingkungan yang kurang sempurna. Dalam peletakan tanaman secara umum disesuaikan dengan konstruksi dan fasilitas jalan, ukuran dan bentuk tanaman dewasa dan lingkungan sekitar.
Prinsip yang diperhatikan dalam perencanaan di jalan bebas hambatan Jakarta- Tangerang adalah kesederhanaan, skala atau proporsi, keseimbangan, warna, kontras dan kesatuan yang dapat memberikan nilai keindahan dan menambah kualitas lingkungan Untuk menghindari kesan monoton, perubahan penataan tanaman dilakukan minimal 320 m untuk setiap kelompok tanaman dengan melakukan penekanan dalam warna, bentuk dan tekstur tanaman. Pada lengkung horizontal (peralihan dari garis lurus ke garis lengkung) dan lengkung vertikal (terutama pada ramp masuk dan keluar) diberikan penekanan dan kesan khusus berupa perubahan jenis, warna, tinggi dan bentuk tanaman guna mengarahkan pengemudi mengambil jalur yang tepat.
