Show simple item record

dc.contributor.advisorWijayanto, Nurheni
dc.contributor.authorGumilar, Dani
dc.date.accessioned2023-11-06T08:47:12Z
dc.date.available2023-11-06T08:47:12Z
dc.date.issued2004
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/130799
dc.description.abstractAgroforestri merupakan suatu nama kolektif untuk sistem dan teknologi penggunaan lahan, dimana tanaman keras berkayu (pepohonan, perdu, jenis palem, bambu dan sebagainya) ditanam bersamaan dengan tanaman pertanian dan atau hewan dengan satu tujuan tertentu dalam suatu bentuk pengaturan spasial atau temporal dan di dalamnya terdapat interaksi ekologi dan ekonomi di antara berbagai komponen yang bersangkutan. Keberadaan pekarangan telah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Pekarangan adalah sebidang lahan di sekitar rumah dengan status pemilikan dan batas-batas yang jelas. Tujuan yang penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik agroforestri berbentuk pekarangan dilihat dari motivasi ekonomi, ekologi, sosial dan budaya. Dari ke tiga lokasi penelitian yaitu Desa Cipasang, Desa Jemah, dan Desa Kudawangi masing-masing diambil 30 responden yang memiliki pekarangan relatif baik sehingga dapat menunjukan aspek-aspek yang akan diteliti. Di Desa Cipasang, Desa Jemah, dan Desa Kudawangi jenis tanaman yang sangat mendominasi pekarangan adalah tanaman buah-buahan terutama mangga (Mangifera indica). Hal ini karena tanaman buah-buahan mampu memberikan penghasilan tambahan bagi para petani, sangat cocok dengan jenis tanah di lokasi penelitian, tidak memerlukan pemeliharaan yang cukup intensif, serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu masyarakat sangat mudah mendapatkan bibit dan pohon mangga, karena pohon mangga dapat tumbuh dengan sendirinya hasil dari biji mangga yang dibuang ke lahan pekarangan. Di Desa Cipasang orientasi produk pekarangan lebih tinggi untuk dijual dimana sebanyak 93,3% responden menjual hasil pekarangannya, hal ini dilakukan dengan cara menjual hasil pekarangan ke para bandar dengan sistem borongan dan dilakukan untuk mencukupi kebutuhan makanan pokok karena produktifitas padi sangat rendah. Di Desa Jemah sebanyak 96% responden megorientasikan hasil pekarangan untuk dikonsumsi keluarga, hal ini dikarenakan kebutuhan makanan pokok dan produktifitas padi tercukupi, akan tetapi ada juga sebagian petani yang menjual sebagian hasil pekarangannya dan sebagian lagi untuk dikonsumsi keluarga. Sedangkan di Desa Kudawangi sebanyak 86% petani mengorientasikan hasil dari pekarangan untuk dikonsumsi keluarga. Di tiga lokasi penelitian (Desa Cipasang, Desa Jemah, dan Desa Kudawangi) bentuk hasil dari pekarangan yang dapat dimanfaatkan diantaranya buah, daun, dan kayu. Karakteristik pekarangan untuk daerah hulu yaitu produk yang dihasilkan lebih diorientasikan untuk dijual, kebutuhan biaya yang dikeluarkan untuk pengelolaan rendah, jenis tanaman didominasi...id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural Universityid
dc.subject.ddcKehutananid
dc.subject.ddcManajemen Hutanid
dc.titleKarakteristik agroforestry berbentuk pekaranganid
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordAgroforestryid
dc.subject.keywordPekaranganid
dc.subject.keywordDesa Cipasangid
dc.subject.keywordDesa Jemahid
dc.subject.keywordDesa Kudawangiid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record