Show simple item record

dc.contributor.advisorIstomo
dc.contributor.authorNugraha, Rendra Piscestria
dc.date.accessioned2023-11-03T06:48:45Z
dc.date.available2023-11-03T06:48:45Z
dc.date.issued2015
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/130480
dc.description.abstractKegiatan penebangan pada kawasan hutan merupakan salah satu faktor terjadinya perubahan pada struktur tegakan hutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan tegakan serta komposisi hutan di areal IUPHHK-HA PT. Barito Putera, Kalimantan Tengah khususnya pada area bekas tebangan (LOA) 2002, 2007, dan 2012 serta area belum ditebang tahun 2014 sebagai pembanding (hutan primer). Berdasarkan pengamatan yang dilakukan secara umum jenis dari Shorea leprosula mendominasi pada berbagai tingkat pertumbuhan di setiap lokasi pengamatan. Kurva struktur tegakan yang terbentuk di semua lokasi pengamatan berbentuk huruf “J” terbalik yang berarti bahwa kondisi hutan pada lokasi pengamatan masih normal. Perkembangan pertumbuhan tegakan pada area bekas tebangan dapat dikatakan berlangsung normal karena sedang dalam proses menuju kondisi tegakan hutan normal kembali (primer). Potensi tegakan sebelum penebangan tahun 2014 didapatkan data pohon inti sebanyak 103 pohon/ha dan pohon masak tebang sebanyak 49 pohon/ha dengan volume 317.25 m3/ha. Pada LOA 2012 jumlah pohon inti sebanyak 77 pohon/ha dan pohon masak tebang sebanyak 51 pohon/ha dengan volume 584.84 m3/ha. LOA 2007 didapatkan pohon inti sebanyak 93 pohon/ha dan pohon masak tebang 53 pohon/ha dengan volume 427.95 m3/ha. LOA 2002 didapatkan pohon inti sebanyak 75 pohon/ha dan pohon masak tebang sebanyak 59 pohon/ha dengan volume 442.41 m3/ha. Perbedaan perkembangan pertumbuhan pada lokasi pengamatan kemungkinan disebabkan oleh kegiatan pembalakan liar (illegal logging) yang terjadi pada kawasan hutan dan kerusakan tegakan tinggal (termasuk pohon inti) akibat kegiatan penebangan dan pengangkutan. Keadaan hutan setelah penebangan dapat dikatakan dalam kondisi hutan setelah tebangan yang seimbang karena masih tersedia pohon inti lebih dari 25 pohon per-hektar sesuai dengan ketentuan pada sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) yang menunjukkan bahwa tegakan hutan bekas tebangan dapat dimanfaatkan kembali pada rotasi tebang berikutnyaid
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.subject.ddcForestry-Forest Managementid
dc.titlePerkembangan tegakan setelah penebangan di areal IUPHHK-HA PT. Barito Putera, Kalimantan Tengahid
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordobservation areaid
dc.subject.keywordforest conditionid
dc.subject.keywordmature timberid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record