| dc.description.abstract | Kebutuhan kayu di Indonesia dewasa ini semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Salah satu usaha yang harus dilakukan untuk meningkatkan produksi kayu yaitu melalui pembangunan Hutan Tanaman Industri. Acacia mangium Willd merupakan salah satu jenis tanaman yang memiliki prospek baik untuk dikembangkan sebagai tanaman HTI. Permasalahan yang dihadapi dalam pembangunan HTI adalah rendahnya tingkat kesuburan tanah yang menyebabkan menurunnya pertumbuhan tanaman dan produksi tidak optimal sesuai dengan potensinya. Salah satu upaya untuk menanggulangi permasalahan ini adalah melalui penambahan sejumlah unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk merangsang per- tumbuhannya melalui pemupukan. Unsur hara yang ditambahkan dapat berupa pupuk organik dan anorganik.
Melihat kondisi lapangan di Parung Panjang memiliki tingkat kesuburan tanah yang rendah maka perlu dilakukan penelitian dibidang pemupukan organik dan anorganik pada tanaman Acacia mangium umur satu tahun. Pupuk anorganik yang digunakan yaitu urea, sedangkan pupuk organik yang digunakan yaitu pupuk BDT TM (bio-fertilizer). Pupuk ini adalah sejenis Rhizobakteria pemicu pertumbuhan tanaman (Bacillus Lateroporus BOD).
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jenis dan dosis
pupuk terhadap pertumbuhan Acacia mangium. Dengan penelitian di lapangan diha- rapkan akan memberikan informasi mengenai pengaruh pemberian pupuk terhadap pertumbuhan tanaman Acacia mangium berumur satu tahun di BKPH Parung panjang. Penelitian dilaksanakan di BKPH Parung Panjang, RPH Maribaya pada petak 27a. Penelitian ini dimulai dari bulan September 2003 sampai Desember 2003. Analisis ragam yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok.
Berdasarkan hasil penelitian selama 3 bulan dapat dilihat hasil pertambahan tinggi dan diameter sebagai berikut: pertambahan tinggi secara berturut-turut yaitu, pemupukan dengan urea dosis 120 g/tanaman sebesar 98,2 cm (18,2% dari tanaman kontrol); BDTM 300 ml/tanaman sebesar 91,6 cm (10,2% dari tanaman kontrol); urea TM dosis 80 g/tanaman sebesar 88,6 cm (6,6% dari tanaman kontrol); BDT 200 ml/tanaman sebesar 87,5 cm (5,3% dari tanaman kontrol); urea dosis 100 g/tanaman sebesar 85,5 cm (2,9% dari tanaman kontrol) dan kontrol sebesar 83,1 cm. Sedangkan pertambahan diameter secara berturut-turut yaitu, pemupukan dengan urea dosis 120 g/tanaman sebesar 1,06 cm (14,0% dari tanaman kontrol); BDTM 300 ml/tanaman sebesar 1,02 cm (9,7% dari tanaman kontrol); urea dosis 100 g/tanaman sebesar 0,98 cm (5,4% dari tanaman kontrol); urea dosis 80 g/tanaman sebesar 0,96 cm (3,2% dari tanaman kontrol); BDTM 200 ml/tanaman sebesar 0,94 cm (1,1% dari tanaman kontrol)
dan kontrol sebesar 0,93 cm. | id |