Show simple item record

dc.contributor.advisorWahjunie, Dwi Putro Tejo
dc.contributor.authorWeni, Juni Mustika
dc.date.accessioned2023-11-01T02:36:12Z
dc.date.available2023-11-01T02:36:12Z
dc.date.issued2007
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/129613
dc.description.abstractKelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) merupakan salah satu tanaman tahunan yang memerlukan air dalam jumlah banyak untuk tumbuh dengan baik Oleh karena itu curah hujan dapat menjadi faktor penghambat pertumbuhan kelapa sawit karena di Indonesia terutama di daerah-daerah dengan periode musim kemarau yang jelas. Pada musim hujan terjadi peningkatan air hujan yang berakibat pada terjadinya aliran permukaan yang berlebihan, pada musim kemarau terjadi kekurangan air yang menyebabkan degradasi lahan. Salah satu tindakan pengelolaan air yang dapat dilakukan adalah pembuatan teras gulud dan rorak yang dilengkapi dengan lubang peresapan dan mulsa vertikal. Teras gulud dapat menghambat aliran permukaan, rorak untuk menampung air aliran permukaan sedangkan saluran dan lubang resapan berfungsi untuk menampung dan meresapkan aliran permukaan. Penggunaan mulsa yang ditempatkan ke dalam saluran-saluran dapat meningkatkan efektifitas peresapan air. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mempelajari dan mengamati karakteristik hujan, menganalisis hubungan antara karakteristik hujan dengan aliran permukaan dengan penetapan nilai koefisien aliran permukaan (overland flow) serta mengetahui teknik konservasi yang efektif pada perkebunan kelapa sawit. Teknik konservasi yang diterapkan adalah teras gulud yang dilengkapi dengan lubang resapan dan mulsa vertikal, tanpa perlakuan (kontrol), dan rorak yang dilengkapi dengan lubang resapan dan mulsa vertikal. Penelitian dilakukan di perkebunan kelapa sawit milik PT. Perkebunan Nusantara VII Unit Usaha Rejosari, provinsi Lampung, dari bulan Februari hingga Agustus 2006. Data curah hujan dikelompokkan secara periodik menjadi data curah hujan harian, 10 harian, 20 harian, dan bulanan. Keragaman curah hujan terbesar pada curah hujan barian kemudian diikuti curah hujan 10 harian, 20 harian, dan bulanan yang dapat diketahui dari nilai koefisien keragamannya. Ambang curah hujan mulai terjadinya overland flow pada teras gulud lebih besar dibandingkan dengan ambang curah hujan pada perlakuan rorak dan kontrol, yaitu masing-masing sebesar 20.24 mm, 17.94 mm, dan 14.88 mm. Overland flow mulai terjadi jika intensitas hujan maksimum sebesar 16.82 mm/jam pada teras gulud, pada blok kontrol sebesar 15.90 mm/jam dan pada rorak sebesar 12,15 mm/jam. Besarnya koefisien overland flow yang terjadi pada perlakuan teras gulud adalah berkisar 0.0001-0.33, pada perlakuan rorak adalah 0.001-0.02, dan pada kontrol adalah 0.001-0.62. Perlakuan teras gulud yang dilengkapi dengan lubang resapan dan muisa vertikal dapat menekan overland flow sebesar 46.50%, sedangkan rorak sebesar 52.86%. Efektifitas perlakuan rorak lebih tinggi dibandingkan dengan teras gulud, karena pada blok rorak luas bidang resapannya relatif lebih besar dari perlakuan teras gulud. Hal ini menyebabkan jumlah air hujan yang terserap ke dalam tanah lebih besar daripada yang menjadi overland flow.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcSiklus hidrologiid
dc.titleKarakteristik hujan dan pengaruhnya terhadap koefisien aliran permukaan (Overland Flow) pada perkebunan kelapa sawit dengan teknik konservasi teras gulud dan rorakid
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordCurah hujanid
dc.subject.keywordAliran permukaanid
dc.subject.keywordKonservasi tanah dan airid
dc.subject.keywordTeras guludid
dc.subject.keywordMulsa vertikalid
dc.subject.keywordKelapa sawitid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record