Show simple item record

dc.contributor.advisorHadi, Yusuf Sudo
dc.contributor.advisorIskandar, M.I
dc.contributor.authorAlkaf, Muhamad
dc.date.accessioned2023-10-31T00:13:50Z
dc.date.available2023-10-31T00:13:50Z
dc.date.issued2007
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/129253
dc.description.abstractAda lebih dari 4000 jenis kayu di Indonesia yang memiliki keragaman sifat maupun ciri-cirinya. Banyak diantara jenis kayu tersebut memiliki kandungan zat ekstraktif tinggi. Beberapa jenis kayu yang memiliki kandungan zat ekstraktif tinggi yaitu jenis kayu Merbau (Intsia spp) dan Keruing (Dypterocarpus spp). Zat ekstraktif dalam kayu dapat mempengaruhi sifat perekatan dan mengeluarkan warna setelah pengolahan. Untuk itu diperlukan suatu upaya agar kayu-kayu yang memiliki zat ekstraktif tinggi dapat dimanfaatkan untuk produk-produk kayu komposit dan kayu pertukangan dengan kualitas yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji mutu produk kayu lamina 3 lapis dan 5 lapis dengan menggunakan perekat Tanin Resorsinol Formaldehida serta menguji mutu produk moulding dari kayu Merbau dan Keruing setelah diberi perlakuan perebusan dengan air dan perlakuan vakum tekan dengan parafin. Metode penelitian dimulai dengan melakukan pengujian kelarutan kayu dalam air panas, air dingin, dan alkohol-benzena. Untuk mengatasi zat ekstraktif, kedua jenis kayu dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan yaitu kontrol, perebusan dengan air, dan vakum tekan dengan parafin. Kayu lamina yang dibuat dibagi menjadi kayu lamina 3 dan 5 lapis. Pengujian pada kayu lamina meliputi uji kerapatan, kadar air, keteguhan geser, MOE, dan MOR. Pengujian pada moulding meliputi pengujian sifat penyerutan, pengampelasan, pembentukan, dan pemboran sehingga dapat diketahui kelas pemesinannya. Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa kayu Merbau memiliki kandungan zat ekstraktif yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan kayu Keruing. Kerapatan kayu lamina yang diberi perlakuan perebusan dengan air menurun dengan rata-rata penurunan sebesar 6,32 % sedangkan kerapatan kayu lamina yang diberi perlakuan vakum tekan dengan parafin cenderung meningkat dengan rata-rata peningkatan sebesar 6,61 % bila dibandingkan dengan kontrol. Kadar air kayu lamina telah memenuhi standar JAS 2003 yaitu dibawah 15 %. Nilai keteguhan geser kayu lamina Merbau lebih baik bila dibandingkan dengan Keruing, namun nilai MOE dan MOR kayu lamina Keruing lebih baik bila dibandingkan dengan Merbau. Kayu lamina 3 lapis memiliki nilai keteguhan geser, MOE, dan MOR yang lebih baik bila dibandingkan kayu lamina 5 lapis. Kualitas pemesinan kayu Keruing termasuk kelas sangat baik (Kelas I) dalam penyerutan, pengampelasan, dan pembentukan, tetapi dalam pemboran masih termasuk kelas baik (Kelas II).id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB Universityid
dc.subject.ddcKayu laminasiid
dc.subject.ddcMouldingid
dc.titlePeningkatan mutu kayu lamina dan moulding pada kayu merbau (Intsia bijuga Thouars) dan keruing (Dipterocarpus sp. Gaertner f.)id
dc.typeUndergraduate Thesisid
dc.subject.keywordkayu laminaid
dc.subject.keywordmouldingid
dc.subject.keywordKeruingid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record