| dc.description.abstract | Ada lebih dari 4000 jenis kayu di Indonesia yang memiliki keragaman sifat
maupun ciri-cirinya. Banyak diantara jenis kayu tersebut memiliki kandungan zat
ekstraktif tinggi. Beberapa jenis kayu yang memiliki kandungan zat ekstraktif tinggi
yaitu jenis kayu Merbau (Intsia spp) dan Keruing (Dypterocarpus spp). Zat ekstraktif
dalam kayu dapat mempengaruhi sifat perekatan dan mengeluarkan warna setelah
pengolahan. Untuk itu diperlukan suatu upaya agar kayu-kayu yang memiliki zat
ekstraktif tinggi dapat dimanfaatkan untuk produk-produk kayu komposit dan kayu
pertukangan dengan kualitas yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menguji mutu
produk kayu lamina 3 lapis dan 5 lapis dengan menggunakan perekat Tanin
Resorsinol Formaldehida serta menguji mutu produk moulding dari kayu Merbau dan
Keruing setelah diberi perlakuan perebusan dengan air dan perlakuan vakum tekan
dengan parafin.
Metode penelitian dimulai dengan melakukan pengujian kelarutan kayu
dalam air panas, air dingin, dan alkohol-benzena. Untuk mengatasi zat ekstraktif,
kedua jenis kayu dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan yaitu kontrol, perebusan
dengan air, dan vakum tekan dengan parafin. Kayu lamina yang dibuat dibagi
menjadi kayu lamina 3 dan 5 lapis. Pengujian pada kayu lamina meliputi uji
kerapatan, kadar air, keteguhan geser, MOE, dan MOR. Pengujian pada moulding
meliputi pengujian sifat penyerutan, pengampelasan, pembentukan, dan pemboran
sehingga dapat diketahui kelas pemesinannya.
Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa kayu Merbau memiliki
kandungan zat ekstraktif yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan kayu Keruing.
Kerapatan kayu lamina yang diberi perlakuan perebusan dengan air menurun dengan
rata-rata penurunan sebesar 6,32 % sedangkan kerapatan kayu lamina yang diberi
perlakuan vakum tekan dengan parafin cenderung meningkat dengan rata-rata
peningkatan sebesar 6,61 % bila dibandingkan dengan kontrol. Kadar air kayu lamina
telah memenuhi standar JAS 2003 yaitu dibawah 15 %. Nilai keteguhan geser kayu
lamina Merbau lebih baik bila dibandingkan dengan Keruing, namun nilai MOE dan
MOR kayu lamina Keruing lebih baik bila dibandingkan dengan Merbau. Kayu
lamina 3 lapis memiliki nilai keteguhan geser, MOE, dan MOR yang lebih baik bila
dibandingkan kayu lamina 5 lapis. Kualitas pemesinan kayu Keruing termasuk kelas
sangat baik (Kelas I) dalam penyerutan, pengampelasan, dan pembentukan, tetapi
dalam pemboran masih termasuk kelas baik (Kelas II). | id |