Reproduksi Bekicot (Achatina fulica Fer.) dan Beberapa Faktor yang Mempengaruhinya

Date
1986Author
Djohar
Partodihardjo, Soebadi
Sastrohadinoto, Soenarjo
M. Bl. de Rozari
Tjokronegoro, Arjatmo
Metadata
Show full item recordAbstract
Saat ini masyarakat semakin merasakan besarnya manfaat bekicot, terutama nilai bionomiknya dalam dunia ekspor. Sayangnya, bahan baku yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan pemanfaatan bekicot, sampai sekarang masih tergantung sepenuhnya pada hasil berburu bekicot alam. Kekhawatiran akan semakin terdesaknya populasi bekicot alam oleh para pemburu bekicot semakin meluas dikemukakan oleh para pengamat. Padahal petunjuk budidaya bekicot yang ada sekarang, selain masih sangat terbatas juga belum memberikan pedoman yang operasional. Dengan demikian, maka penelitian yang berkaitan dengan usaha mengungkapkan kehidupan reproduksi bekicot yang menunjang cara budidaya bekicot sangat diharapkan, terutama yang dapat dikerjakan oleh masyarakat luas. Oleh sebab itu dilakukan penelitian ini, tentang reproduksi bekicot dan beberapa faktor yang mempengaruhinya, yang dikaitkan maknanya dengan mengembangkan cara budidaya bekicot dengan teknologi tepat guna.
Obyek dan persoalan penelitian meliputi tiga hal, yakni telur, yang menekankan pada persoalan cara penetasan telur di luar sarang dan daya tetasnya pada lingkungan terbuka dan tertutup; anak, yang menekankan pada viabilitas (daya hidup) bayi berdasarkan sifat asal telur yang ditetaskan, dan umur reproduksinya; dan induk, yang menekankan pada kelakuan reproduksinya (kegiatan kawin dan bertelur), dan reaksinya terhadap pengaruh faktor pemotongan tentakel okular, sinar matahari, media dasar kandang, kepadatan populasi, dan luas ruang gerak. Tujuan penelitian adalah untuk menemukan jawaban dari berbagai persoalan di atas.
Penelitian dilakukan di lapangan melalui tiga tahapan, pertama-pendahuluan, yaitu merupakan tahap identifikasi syarat dasar kehidup-an reproduksi bekicot; kedua-pemantapan, yaitu tahapan untuk menetapkan ukuran dan media dasar kandang, tempat penetasan telur, dan konfirmasi aturan-aturan penelitian; dan ketiga-eksperimentasi, yaitu tahap penerapan semua pengalaman, aturan, dan variabel peneli-Penelitian berlangsung antara Juni 1983-Oktober 1985. Contoh bekicot yang diteliti adalah Achatina fulica, yang diperoleh dari hasil koleksi bekicot alam di sekitar tempat penelitian pada radius lebih kurang 1 km. tian.
Hasilnya adalah, telur bekicot dapat ditetaskan di luar sarang dengan menggunakan cawan tanah yang direndam dalam bak berisi air, dengan daya tetas dapat mencapai 100%. Daya tetas telur dapat menurun bila ada gangguan berupa jamur atau membusuk. Sifat asal telur yang ditetaskan dapat mempengaruhi daya tetasnya. Telur mulai menetas paling cepat pada hari ke empat (3 hari), paling lambat pada hari ke 14 (13 hari), rata-rata pada hari ke delapan (7 hari). Penetasan berakhir paling cepat pada hari ke enam (5 hari), paling lambat pada hari ke 23 (22 hari), rata-rata pada hari ke 13 (12 hari). Dengan demikian, maka lama penetasan telur bekicot adalah berkisar antara 3-22 hari, umumnya antara 7-12 hari. Perbedaan lama penetasan telur bekicot berkaitan dengan perbedaan status embrional telur saat dilepaskan induknya, yang kebanyakan berada pada fase kedua dari tujuh fase perkembangan ...
Collections
- DT - Veterinary Science [305]

