Show simple item record

dc.contributor.advisorKoesmaryono, Yonny
dc.contributor.authorRomadhon, Syahru
dc.date.accessioned2023-10-29T01:54:34Z
dc.date.available2023-10-29T01:54:34Z
dc.date.issued2007
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/129052
dc.description.abstractPenelitian ini bertujuan menganalisis hubungan berbagai faktor iklim dengan tingkat serangan Wereng Batang Coklat (Nilaparvata lugens Stal) sebagai landasan prediksi serangan WBC di wilayah Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai dengan Juli 2007 di Laboratorium Agrometeorologi Departemen Geofisika dan Meteorologi, FMIPA-IPB. Wereng Batang Coklat (WBC) merupakan salah satu hama yang sangat penting pada tanaman padi, terutama di wilayah Asia Pasifik yang serangannya sporadis dan sangat merusak pertanaman padi. Hama ini mampu membentuk populasi cukup besar dalam waktu singkat dan merusak tanaman pada semua fase pertumbuhan. Kerusakan tanaman disebabkan oleh kegiatan makan dengan menghisap cairan sel tanaman. Iklim dan cuaca telah diketahui pengaruhnya terhadap kehidupan dari serangga sejak dua setengah abad yang lalu, tetapi penelitian mengenai hal itu baru dilakukan 80 tahun kemudian. Iklim dan cuaca memiliki peranan penting baik langsung maupun tidak langsung pada penyebaran, pemencaran, kelimpahan, dan perilaku serangga, termasuk WBC . Berdasarkan hasil analisis regresi diketahui bahwa setiap kabupaten endemik WBC memiliki fluktuasi faktor iklim yang mempengaruhi luas serangan yang berbeda-beda tiap bulannya tergantung pada stadia WBC. Kabupaten Cirebon, Indramayu, Karawang dan Subang merupakan kabupaten yang terserang WBC paling sering dan paling luas. Setiap kabupaten endemik juga memiliki koefisien determinasi (R2 ) yang bervariasi berdasarkan faktor iklimnya. Nilai koefisien determinasi (R2 ) yang diperoleh relatif kecil disebabkan oleh faktor data luas serangan WBC yang hanya menyerang pada bulan-bulan tertentu. Setiap stadia (fase) hidup WBC mendapat pengaruh faktor iklim yang berbeda-beda pada tiap kabupaten. Jika dikelompokkan berdasarkan curah hujan dan ketinggiannya, di dataran rendah (0-100 mdpl) serangan WBC cenderung terjadi di musim hujan, sedangkan di dataran tinggi (>300 mdpl) serangan WBC cenderung terjadi di musim kemarau. Dari hasil analisis diketahui faktor iklim yang paling dominan dalam mempengaruhi luas serangan berturut-turut adalah curah hujan musim hujan, suhu maksimum, curah hujan musim kemarau, kelembaban udara, suhu rata-rata dan suhu minimum. Fase WBC yang paling dipengaruhi faktor iklim secara umum adalah telur dan imago. Kabupaten endemik yang faktor iklimnya berperan paling besar terhadap luas serangan menurut analisis regresi linier berganda adalah kabupaten Sukabumi yang keeratannya mencapai 26.6% pada waktu tunda dua bulan (stadia telur). Hal ini dapat disebabkan faktor lain, khususnya tata cara pengolahan pertanian termasuk teknik pengendalian WBC di kabupaten ini tidak seketat pengendalian di kabupatenkabupaten di wilayah Pantura yang luas serangannya lebih besar, sehingga pengaruh faktor iklim lebih kuat.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.titleAnalisis tingkat serangan wereng batang coklat (Nilaparpata lugens Stal.) berdasarkan faktor iklim: studi kasus 10 kabupaten endemik di propinsi Jawaid
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record