Show simple item record

dc.contributor.advisorAmin, H.A. Arif
dc.contributor.authorAmiranti, Putri
dc.date.accessioned2023-10-27T01:31:25Z
dc.date.available2023-10-27T01:31:25Z
dc.date.issued2005
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/128829
dc.description.abstractNyamuk Culex memiliki habitat di sekitar lingkungan manusia, baik diperkotaan maupun dipedesaan. Menurut Soedarto (1989) dari 20 genus nyanrnk, dalam sub famili Culicinae terdapat dua genus nyamuk yang berperan penting dalam penyebaran penyakit yaitu genus Aedes dan genus Culex. Nyamuk Culex merupakan vector penyakit Dirofillariasis yang disebabkan oleh Dirofillaria immitis pada anjing, penyakit Japanese Encephalitis pada manusia, Fillariasis yang disebabkan oleh Wuchereria bancro.fti pada manusia dan juga merupakan nyamuk pengganggu melalui suara dengungannya. Penggunaan insektisida sintetik lebih disukai dibandingkan insektisida alamiah untuk pengendalian terhadap nyamuk. Praktis dalam penggunaan harga yang relatif lebih murah, dan mudah didapat merupakan alasan mengapa insektisida sintetik lebih disukai (Kardinan, 2001 ). Dampak dari penggunaan insektisida sintetik adalah nyamuk menjadi resisten, rusaknya lingkungan biologis sekitarnya dan terbunuhnya predator alami dari nyanmk tersebut. Penggunaan insektisida alami mulai dikembangkan karena insektisida alami lebih selektif dalam mernbunuh target sasaran. memiliki daya kerja yang tinggi ramah lingkungan dan memiliki toksisitas yang lebih rendah dibanding insektisida sintetik sehingga tingkat keamanannya lebih tinggi (Johnson, 1998). Bawang putih (Allium sativum L) merupakan umbi-umbian yang memiliki banyak manfaat, diantaranya sebagai bahan pengawet, mampu mengurangi kolesterol dalam darah dan hipertensi. Ciri khas dari bawang putih adalah kandungan belerang yang tinggi. Bau khas yang dikeluarkan oleh bawang putih disebabkan oleh adanya dialil sulfida. Dengan Randungan dialil sulfida yang tinggi, hawang putih memiliki prospek untuk dikembangkan sebagai insektisida alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak bawang putih (Allium sativum L) dalam pelarut aquades, etanol dan metanol dengan konsentrasi 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm, 4 ppm, 5 ppm, 6 ppm, 7 ppm, 8 ppm, 9 ppm, IO ppm dan O ppm sebagai kontrol terhadap perkembangan pradewasa nyamuk Culex pipiens quinquefasciatus sebanyak lima kali ulangan. Pengamatan dilakukan 8 jam sekali dan variabel yang diamati adalah kematian larva. kematian pupa dan lamanya perkembangan larva menjadi pupa dan perkembangan pupa menjadi dewasa. Hasil ANOVA, menunjukkan lama perkembangan larva menjadi pupa dalam pelarut aquades, metanol dan etanol berbeda nyata terhadap kontrol (P<0.05). Lama perkembangan pupa menjadi dewasa dalam pelarut aquades, metanol dan etanol berbeda nyata (P<0.05). Persentase kematian larva dan pupa pada semua konsentrasi dalam pelarut aquades, etanol dan metanol berbeda nyata dengan kontrol (P<0.05). Hasil dari analisis Probit, ekstrak bawang putih pada pelarut aquades merniliki LC5 o sebesar 1,3425 ppm, metanol 1,0139 ppm dan etanol 1,5832 ppm.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcNyamukid
dc.subject.ddcEkstark bawang putihid
dc.titlePengaruh Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum L) Terhadap Perkembangan Pradewasa Nyamuk Culex pipiens quinquefasciatusid
dc.typeUndergraduate Thesisid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record