| dc.description.abstract | Saat ini Indonesia sedang menghadapi persoalan kehutanan yang memprihatinkan. Deforestrasi meningkat, Iuas Iahan hutan dalam kawasan hutan terus menyusut serta terjadinya konflik pengelolaan kawasan hutan. Hal ini menyebabkan kelestarian hutan dan kehidupan masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar hutan semakin mengkhawatirkan.
Persoalan tersebut sudah banyak diatasi dengan berbagai macam program yang
telah dijalankan pemerintah, seperti program reboisasi dan program pemukiman kembali
di luar kawasan hutan. Akan tetapi program-program tersebut belum mampu menjawab
persoalan yang semakin komplek. Program yang dianggap marnpu serta rnemberikan
win-win solution bagi persolaan kehutanan di Indonesia adalah program Rutan
Kemasyarakatan (HKm).
Tujuan penelitian ini adalah : (1) Melihat dan mengkaji keragaan pengelolaan
kebun lindung di kawasan hutan lindung dalam skema HKm, (2) Mengidentifikasi jenis-jenis
tanaman yang bermanfaat baik secara ekonomi mampu memberikan kontribusi
pendapatan bagi petani HK.m maupun manfaat ekologi dari kebun lindung dan (3)
Mengkaji apakah kebun Iindung tersebut telah memenuhi fungsi penyediaan jasa
Iingkungan. Penelitian ini dilakukan di Dusun Rigis Jaya II, Desa Gunung Terang,
Kecamatan Way Tenong Kabupaten Lampung Barat, mulai dari bulan Maret 2004
sampai dengan bulan Mei 2004.
Berdasarkan basil wawancara dari 30 responden, semua responden bermata pencaharian sebagai petani kebun. Usia rata-rata responden adalah 42,8 tahun dengan kisaran umur amara 24 sampai dengan 79 tahun. Tingkat pendidikan rata-rata responden Rigis faya II masih tergolong rendah yaitu sebesar 5 tahun masa Pendidikan atau sebesar 83% responden yang tingkat pendidikannya kurang dari sama dengan 6 tahun. Pada umumnya responden merupakan pendatang yang berasal dari Pulau Jawa, suku Jawa 73%, suku Sunda 10%, suku Sumendo 10% dan lainnya merupakan suku Lampung dan Batak.
Kebun lindung yang ada di Rigis Jaya II didorninasi oleh tanaman kopi sebagai
tanaman utama. Kebun lindung ini terdapat di lahan marga (pribadi) dan lahan kawasan
(lahan kelola HK.m di hutan lindung). Rata-rata luas lahan marga yang dikelola oleh
responden sebesar 0.842 Ha (46%) dan lahan kawasan yang dikelola sebesar 0.983 Ha
(54%). Pemilikan kebun di kawasan hutan lindung ada yang berasal dari warisan
sebanyak 4 responden (13%), membuka dari hutan sebanyak 4 responden (13%), bagi
hasil sebanyak 2 responden (7%), hibah sebanyak 1 responden (3%) dan ganti rugi
sebanyak_ 19 responden (63%).
Sistem Pengelolaan Kebun Lindung di Areal HK.m pada umumnya sama dengan
pengelolaan kebun lindung di lahan marga. Pemeliharaan kebun lindung yang umumnya
dilakukan oleh petani Rigis Jaya Ii adalah penyiangan (ngored), pemupukan dan
pemberantasan hama. Kegiatan pemanenan di kebun lindung tidak dilakukan secara
bersamaan. Hal ini dilakukan karena periode panen yang tidak sama dari berbagai jenis
tanaman yang ada di kebun lindung. Hal ini merupakan salah satu manfaat lain dari
kebun lindung.
Pendapatan rata-rata petani Rigis Jaya II sebesar Rp 5.153.568,00 per tahun
dengan rata-rata jumlah anggota keluarga sebanyak 4 orang maka pendapatan rata-rata
per kapita masyarakat Rigis Jaya II sebesar Rp 3.565,00 per hari. Kontribusi dari kebun
lindung kawasan atau dari program Rutan Kemasyarakatan (HKm) sebesar Rp
1.138.132,00 per tahun atau 22% terhadap pendapatan total rumah tangga petani peserta
HKm. Manfaat ekologi kebun lindung di areal HKm didapat dari basil observasi
terhadap 30 plot kebun contoh. Adapun hal-hal yang diobservasi antara lain adalah
jumlah pohon non kopi, ada tidalmya teknik konservasi pada kebun lindung dan
pengukuran beberapa akar tanaman yang dominan di kebun lindung kawasan.
Jumlah rata-rata tanaman per Ha di kebun lindung HKm sebanyak 3270 batang,
dengan rincian tanaman kopi sebagai tanaman utama (86,4%) Ialu tanaman kehutanan
sebesar 10,4% dan tanaman berbuah sebanyak 3,2%. Adapun jenis-jenis tanaman selain
kopi yang banyak terdapat di kebun lindung antara lain tanaman Gamal / Kayu hujan,
Sonokeling, Pinang, Petai, Nangka dan Melinjo.
Kawasan Rigis Jaya II merupakan kawasan berbukit, sehingga perlu dilakukan
suatu teknik konservasi yang dibuat di kebun-kebun tersebut. Tujuan dari pembuatan
teknik konservasi ini antara lain adalah untuk mengurangi bahaya erosi. Dari hasil
observasi 30 plot contoh, hanya 11 responden (37%) yang menerapkan teknik konservasi
di kebun lindung kawasan, sedangkan sisanya 19 responden (63%) tidak menerapkan
teknik konservasi.
Dari hasil pengamatan dan analisa akar 12 jenis pohon, didapat bahwa tanaman
Petai memiliki nilai indeks kedangkalan sebaran akar yang paling tinggi, yaitu sebesar
5.62 dan tanaman Gama! / Kayu hujan memiliki nilai indeks kedangkalan sebaran akar
yang paling kecil yaitu sebesar 0.27. Nilai Indeks kedalaman sebaran akar ini digunakan
untuk melihat seberapa dalam penyebaran akar suatu jenis tanaman. Semakin besar nilai
indeks ini, maka semakin dalam penyebaran akarnya, yang bern.rti semakin baik tanaman
tersebut bagi konservasi tanah dan air.
Untuk melihat pengaruh karakteristik sosial ekonomi masyarakat Rigis Jaya II
terhadap keragaan ekologi kebun lindung, maka dilakukan uji Anova. Dari hasil uji
Anova pada taraf nyata I 0%, dapat dibuktikan bahwa pendapatan total rumah tangga dan
luasan total lahan yang dikuasai oleh responden berpengaruh nyata terhadap keragaan
ekologi kebun lindung.
Berdasarkan uraian diatas maka disarankan diadakan penyuluhan dan pelatihan
bagi petani tentang penerapan teknologi yng dapat memberi keuntungan dan menurunkan
biaya pengelolaan lahan. Selain itu perlu dibentuk kelompok atau lembaga pemasaran
bagi hasil pertanian masyarakat Rigis Jaya II. | id |