| dc.description.abstract | Tanaman kelapa sawit merupakan komoditi perkebunan yang banyak
dikembangkan di Indonesia. Peningkatan kebutuhan kelapa sawit mendorong
terjadinya perubahan pola penggunaan lahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui gambaran dinamika penutupan/penggunaan lahan dan perkebunan
sawit, dan untuk menduga serapan/ perubahan simpanan karbon dari perubahan
penggunaan lahan pada tanah gambut dan tanah mineral di Kabupaten Pelalawan
dan Siak dari tahun 1990 hingga 2013. Metode yang digunakan meliputi
interpretasi dan reintrepretasi citra Landsat, identifikasi perubahan penutupan/
penggunaan lahan dan estimasi serapan/ perubahan simpanan karbon.
Perubahan penggunaan lahan terbesar yang terjadi dari tahun 1990 sampai
2013 di Kabupaten Pelalawan adalah perubahan penggunaan lahan menjadi hutan
tanaman (193.064 ha, 29%) yang umumnya berasal dari hutan rawa sekunder dan
hutan lahan kering sekunder. Perubahan tersebut diikuti dengan perubahan lahan
menjadi perkebunan sawit (180.837 ha, 28%), umumnya berasal dari hutan rawa
sekunder dan semak belukar rawa. Perubahan terbesar juga diikuti dengan
perubahan lahan menjadi semak belukar (111.911 ha, 17%) yang umumnya
berasal dari hutan lahan kering sekunder dan hutan rawa sekunder.
Di Kabupaten Siak perubahan penggunaan lahan terbesar adalah perubahan
menjadi perkebunan sawit (120.871 ha, 33%) umumnya berasal dari hutan rawa
sekunder dan hutan lahan kering sekunder. Perubahan terbesar berikutnya adalah
perubahan menjadi hutan tanaman (126.825 ha, 29%) yang umumnya berasal dari
hutan rawa sekunder dan hutan lahan kering sekunder. Perubahan tersebut diikuti
dengan perubahan menjadi semak belukar (61.858 ha, 16%), umumnya berasal
dari hutan lahan kering sekunder.
Penambahan luas perkebunan sawit terbesar yang berasal dari lahan hutan
(hutan lahan kering sekunder dan hutan rawa sekunder) dan dari lahan non-hutan
(semak belukar rawa dan lahan terbuka) masing-masing terjadi pada periode
1990-2000 dan 2011-2013, dimana di Kabupaten Pelalawan umumnya di tanah
mineral dan di Kabupaten Siak di tanah gambut. Pada periode 1990-2000,
penambahan luas lahan perkebunan sawit dari hutan rawa primer di Kabupaten
Pelalawan hanya sekitar 1% dan sisanya dari hutan sekunder, sedangkan di
Kabupaten Siak tidak ada penambahan luas perkebunan sawit dari hutan rawa
primer. Kehilangan simpanan karbon terbesar akibat konversi lahan hutan (hutan
lahan kering sekunder dan hutan rawa sekunder) menjadi perkebunan sawit pada
periode 1990-2000 adalah 125.162 tC per tahun di Kabupaten Pelalawan dan
167.258 tC per tahun di Kabupaten Siak, sedangkan serapan karbon terbesar
akibat konversi lahan non-hutan (semak belukar rawa dan lahan terbuka) menjadi
sawit masing-masing 391.534 tC per tahun di Kabupaten Pelalawan (2003-2006)
dan 118.459 tC per tahun di Kabupaten Siak (2011-2013). | id |