Show simple item record

dc.contributor.advisorPartadiredja, Masduki
dc.contributor.advisorAshadi, Gatut
dc.contributor.advisorUngerer, Tonny
dc.contributor.authorNotosoediro, Bambang Joeniman
dc.date.accessioned2023-10-12T02:39:27Z
dc.date.available2023-10-12T02:39:27Z
dc.date.issued1985
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/126304
dc.description.abstractMaterial penelitian berasal dari ayam yang diperoleh dari dua peternakan ayam di Kabupaten Bogor, yang diduga menderita penyakit Gumboro bentuk sub klinis. Sampel serum dan bursa Fabricius yang diteliti seluruhnya 90 material yaitu: 30 sampel berasal dari ayam galur Hybro, 30 sampel berasal dari ayam galur CP 707 dan 30 sampel berasal dari ayam galur Hysex brown. Pemeriksaan bursa Fabricius dengan menggunakan uji Fluoresen Antibodi langsung ("direct PAT") memberikan hasil 92,2 persen FAT (+). Sedangkan pemeriksaan serum dengan menggunakan uji Agar Gel Presipitin (AGP), menghasilkan 17,8 persen AGP (+). Di pihak lain pemeriksaan serum yang sama tetapi dengan menggunakan uji HI metoda - yang dinyatakan dalam Geometric Mean Titer (GMT), memberikan hasil 43,3, 43,3 dan 9,2 masing-masing untuk galur ayam Hybro, CP 707 dan Hysex brown. Dari hasil penilaian ketiga uji tersebut dapat dikemukakan bahwa: 1. Sampel bursa Fabricius yang diperiksa berasal dari ayam yang telah terinfeksi virus IBD (FAT (+)). Karena sifat penyakit Gumboro dinyatakan sangat menular maka dapat disimpulkan pula ayam teman sekadangnya telah terinfek- si virus IBD. 2. Uji AGP untuk mendeteksi kandungan antibodi terhadap Gumboro dalam serum ayam yang telah terinfeksi, tidak selalu memberikan hasil positif. 3. Hasil uji HI yang dinyatakan dalam GMT untuk setiap kelompok ayam menunjukan sifat imunosupresif yang menggagalkan terhadap vaksinasi ND yang pernah dilaksanakan sebanyak dua kali. Kegagalan terhadap vaksinasi ND tersebut memperkuat pernyataan yang pertama yaitu bahwa semua ayam yang diperiksa bersama teman sekandangnya telah terinfeksi virus IBD. Pengujian statistik menunjukkan bahwa uji AGP (+) ataupun AGP (-) tidak berpengaruh pada hasil uji HI individu. Sebagai kesimpulan dapat dikemukakan bahwa: Uji FAT lebih peka dari pada Uji AGP dalam melaksanakan diagnosa terhadap penyakit Gumboro bentuk sub klinis.id
dc.language.isoidid
dc.publisherBogor Agricultural University (IPB)id
dc.subject.ddcVeterinary scienceid
dc.subject.ddcAnimal diseasesid
dc.titlePerbandingan kepekaan antara uji fluoresen antibodi (fat) dengan uji agar gel presitipin (agp) dalam menegakkan diagnosa penyakit gumboro bentuk sub klinisid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordVirus IBDid
dc.subject.keywordUji serologikid
dc.subject.keywordPathologyid
dc.subject.keywordBogor Agricultural Universityid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record