| dc.description.abstract | Tanah perkebunan karet di Indonesia sebagian besar
tergolong jenis tanah Podsolik, Latosol, sedikit Regosol,
dan jenis lainnya yang secara keseluruhan berkadar:, fosfor
rendah, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan fosfor
tanaman. Di samping kadar fosfor yang rendah, pada umumnya
tanah bereaksi masam dan mengikat unsur P cukup kuat.
Usaha untuk meningkatkan produksi karet yang sampai
saat ini masih merupakan andalan dalam peranannya sebagai
penghasil devisa, ditempuh dengan perluasan areal maupun
intensifikasi. Untuk maksud intensifikasi tersebut, salah
satunya ditempuh dengan jalan mempertahankan atau meningkatkan
kesuburan tanah perkebunan karet.
Dalam usaha meningkatkan kesuburan tanah perkebunan,
terutama usaha memenuhi kebutuhan fosfor bagi tanaman,
telah bertahun-tahun dilakukan melalui pemupukan. Usaha
tersebut telah memberikan pengaruh yang nyata terhadap
kenaikan produksi. Tetapi tanpa disadari bahwa karakteristik
tanah perkebunan pada umumnya memfiksasi P cukup kuat,
sehingga pupuk P yang diberikan, sebagian terikat dalam
tanah dan tidak tersedia bagi tanaman.
Beberapa mikroorganisme tanah telah diketahui dapat
membantu meningkatkan serapan fosfor bagi tanaman. Hanya
saja belum banyak informasi yang dapat diperoleh dalam
hubungannya dengan manfaatnya pada tanaman karet.
Untuk maksud tersebut di atas, penelitian pemanfaatan
cendawan Mikoriza Vesikula-Arbuskula (MVA) dalam membantu
meningkatkan serapan fosfor pada karet, dilakukan pada
tanah masam dengan kandungan P tersedia yang rendah. Keuntungan
yang dapat diambil dari hasil penelitian ini yaitu
tersedianya teknologi pemanfaatan cendawan MVA dalam upaya
meningkatkan serapan unsur hara yang dapat dikembangkan
dalam praktek budidaya karet. ... | id |