Tingkat Serangan Penggerek Buah Kopi (PBKo) dan Pengendaliannya oleh Petani pada Pola Tanam Berbeda di Kabupaten Karo
Date
2023-09-08Author
Efrata, Enriski
Hidayat, Purnama
Harahap, Idham Sakti
Metadata
Show full item recordAbstract
Sumatera Utara menghasilkan 10% dari total penghasilan biji kopi di Indonesia. Budidaya kopi arabika (Coffea arabica) terdapat pada dataran tinggi yang yang tersebar pada beberapa kabupaten di Sumatera Utara termasuk Kabupaten Karo. Budidaya kopi di Kabupaten Karo tidak lepas dari serangan hama penggerek buah kopi (PBKo), Hypothenemus hampei (Ferr.) (Coleoptera: Curculionidae). PBKo merupakan salah satu hama penting yang menyerang kopi dan dapat menyebabkan kehilangan hasil sebesar 30% - 40% di Kabupaten Karo. Ciri dari serangan hama PBKo adalah adanya lubang gerekan dan serbuk berwarna hijau bekas gerekan pada bagian bawah / diskus beri kopi. Keberadaan hama PBKo masih sulit untuk dikendalikan, karena hampir seluruh hidupnya dihabiskan di dalam biji kopi. Perbedaan pola tanam, perilaku, persepsi petani dalam budidaya kopi dan pengelolaan hama kopi juga berpengaruh terhadap keberadaan PBKo. Budidaya kopi di Kabupaten Karo umumnya dilakukan dengan pola tanam polikuktur (kopi-sayuran-tanaman buah). Informasi mengenai intensitas serangan PBKo pada pola tanam berbeda di Kabupaten Karo masih belum diketahui. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui intensitas serangan PBKo pada pola tanam dan periode waktu yang berbeda di Kabupaten Karo, persepsi dan pengetahuan petani mengenai budidaya, hama, serta kaitannya dengan perubahan iklim di Kabupaten Karo. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Februari 2022-Desember 2022. Lokasi pengambilan sampel tersebar di perkebunan kopi milik masyarakat di beberapa desa di Kabupaten Karo, yaitu Desa Sukanalu, Torong, Pintumbesi, Kutarayat, Kutambelin, Kebayaken dan Gung Pinto. Penelitian dilakukan pada 9 kebun kopi. Setiap lahan diamati intensitas serangan PBKo pada 50 pohon pengamatan per jenis lahan. Pengamatan intensitas serangan pada pohon pengamatan dilakukan dengan cara mengitung beri kopi yang sehat dan beri kopi yang terinfestasi pada 4 ranting paling produktif. Penentuan ranting pengamatan ditentukan berdasarkan arah mata angin. Intensitas serangan juga diamati pada beri kopi yang dibeli dari hasil panen petani, dan sisa beri kopi yang sudah jatuh di lahan (lelesan). Beri kopi berjumlah 1 kg/jenis sampel diamati untuk dihitung intensitasnya. Sebanyak 300 beri kopi terinfestasi per lahan dikumpulkan untuk di bedah dan di amati populasi PBKo yang ada didalamnya. Data mengenai persepsi dan tindakan petani mengenai budidaya kopi, hama serta pengendaliannya didapatkan dengan wawancara langsung ke petani dengan menggunakan kuesioner sebagai acuan pertanyaan. Wawancara dengan petani dilakukan pada 150 petani yang masing-masing terdiri dari dua kelompok petani yaitu petani binaan (75 petani) dan petani non-binaan (75 petani) Identifikasi serangga hama dilakukan di Laboratorium Biosistematika Serangga, Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Data hasil pengamatan kemudian ditabulasi menggunakan Microsoft excel 2019, dianalisis menggunakan Rstudio dan dilanjutkan dengan uji Tukey HSD dengan taraf α = 5%. Dokumentasi hama PBKo dilakukan dengan menggunakan mikroskop LEICA M205. Berdasarkan hasil pengamatan, intensitas serangan PBKo paling tinggi ditemukan pada lahan dengan pola tanam monokultur. Intensitas serangan pada lahan dengan pola tanam monokultur juga ditemui paling tinggi pada kedua periode waktu pengamatan (panen kecil dan panen raya). Hal ini disebabkan oleh keseragaman tanaman yang dibudidayakan yang dapat menurunkan keragaman dan kekayaan sumber hayati seperti musuh alami. Kemudian intensitas serangan yang tertinggi setelah intensitas serangan pada pola tanam monokultur adalah pada lahan kopi dengan pola tanam polikultur (kopi-sayuran). Intensitas serangan paling sedikit ditemui pada lahan dengan pola tanam polikultur (kopi-jeruk). Hal ini dapat disebabkan oleh adanya jarak yang cukup jauh antara tanaman kopi satu dengan yang lainnya di lahan dengan pola tanam polikultur baik itu polikultur (kopi-sayuran) dan polikultur (kopi-jeruk). Pemakaian insektisida yang masif dilakukan pada tanaman sayur dan jeruk juga berdampak pada keberadaan hama PBKo di lahan tersebut. Populasi PBKo ditemukan paling banyak berada pada lahan dengan pola tanam monokultur. Hal ini juga sejalan dengan intensitas serangan. Intensitas serangan dan populasi PBKo ditemui paling tinggi pada lahan dengan pola tanam monokultur disebabkan jarak antar tanaman kopi yang lebih rapat dibandingkan dengan pola tanam polikultur, sehingga memudahkan pergerakan hama PBKo betina untuk mencari beri kopi baru untuk dijadikan tempat bertelur. PBKo betina juga cenderung menginfestasi beri kopi yang paling dekat dari beri tempatnya tinggal. Keberadaan hama PBKo juga dipengaruhi oleh persepsi dan perilaku petani tentang budidaya kopi, hama dan pengendaliannya serta perubahan iklim. Kelompok petani binaan dan non-binaan menganggap Helopeltis sp. dan PBKo sebagai hama yang paling banyak menyerang. Pengendalian yang dilakukan baik itu petani binaan dan non-binaan masih bergantung pada penggunaan insektisida kimiawi dengan golongan sipermetrin. Penggunaan perangkap pada kelompok petani binaan masih lebih tinggi dibandingkan kelompok petani non-binaan. Secara umum petani dengan kelompok binaan memiliki lebih banyak pengalaman serta pengetahuan tentang budidaya kopi, hama dan pengendaliannya serta kesadaran akan lingkungan dan perubahan iklim. Hal ini disebabkan oleh kelompok petani binaan memiliki tingkat pendidikan dan pengalaman yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok petani non-binaan. Tingkat pendidikan juga berpengaruh terhadap tindakan dan persepsi petani dalam berbudiaya kopi, hama dan pengendaliannya, serta upaya-upaya yang dilakukan dalam menghadapi perubahan iklim. North Sumatra contributes to 10% of Indonesia's total coffee bean production. Arabica coffee (Coffea arabica) thrives in the highlands scattered across several districts in North Sumatra, including Karo District. Coffee cultivation in Karo Regency is closely intertwined with the infestation of the pest Hypothenemus hampei (Ferr.) (Coleoptera: Curculionidae), commonly known as the coffee berry borer (CBB). This pest plays a significant role in infesting coffee berries, resulting in yield losses of 30–40% in Karo District. The presence of CBB infestation is identifiable by drill holes and green grinding powder on the surface of the coffee berries. This pest is challenging due to its nearly exclusive life within the coffee bean. Furthermore, differences in cropping patterns, farmer behaviors, and perceptions towards coffee cultivation and pest management impact the prevalence of CBB. Coffee cultivation in Karo Regency frequently employs a polyculture cropping pattern that combines coffee with vegetables or fruits. However, information about CBB infestations in various cropping patterns remains elusive. This study aims to determine CBB infestation levels across different cropping patterns in Karo District and to comprehend farmers' perceptions of coffee cultivation, pest management, and climate change. Conducted between February 2022 and December 2022, this research encompassed various villages in Karo District, namely Sukanalu, Torong, Pintumbesi, Kutarayat, Kutambelin, Kebayaken, and Gung Pinto. The study focused on nine coffee plantations, evaluating CBB infestation intensity across 50 observation trees per land type. Intensity assessment involved counting both uninfested and infested berries on the four densest branches. Branch selection was based on wind direction. Additionally, CBB infestation intensity was examined on purchased coffee berries and fallen berries on the ground (lelesan). For calculation purposes, 1 kg of coffee berries per sampling was observed. Dissection and observation of the CBB population within 300 infested coffee berries per field were conducted. Farmer perceptions and practices concerning coffee cultivation, pests, and control were obtained through direct questionnaire-based interviews involving 150 farmers, divided into specialty farmers (75 farmers) and conventional farmers (75 farmers) groups. Data were tabulated using Microsoft Excel 2019, visualized with Rstudio, and subjected to Two-Way ANOVA and Tukey HSD tests at a significance level of α = 5%. CBB documentation utilized a LEICA M205 microscope, with insect identification performed at the Laboratory of Insect Biosystematics, Department of Plant Protection, Faculty of Agriculture, IPB University. Based on observations, the most intense CBB infestations occurred in monoculture cropping pattern fields. This intensity remained consistent in both early-harvest and main-harvest periods due to reduced biological resource diversity resulting from uniform plant cultivation. Monoculture cropping patterns, specifically coffee-polyculture (coffee-vegetable) patterns, exhibited the second-highest infestation. Conversely, the least-infested fields featured a polyculture pattern involving coffee and oranges. This outcome stemmed from the notable distance between coffee plants and the extensive use of insecticides in vegetable and citrus crops, influencing CBB presence. Monoculture cropping pattern fields also hosted the highest CBB populations, aligning with infestation intensity. Denser coffee plant spacing in monoculture patterns facilitated female CBB in locating new coffee berries for egg laying, contributing to elevated infestation levels. CBB’s existence correlated with farmers' perceptions of coffee cultivation, pest management, climate change, and adaptive behaviors. Both specialty and conventional farmer groups identified Helopeltis sp. and CBB as the primary pests in their coffee plantations. Pest control strategies for both groups primarily relied on cypermethrin-based chemical insecticides. Nevertheless, specialty farmers employed traps to a greater extent than conventional farmers. Overall, specialty farmers exhibited superior expertise and knowledge in coffee cultivation, pest management, environmental awareness, and climate change adaptation. This discrepancy was attributed to higher education levels and greater experience within the specialty farmer group, which consequently shaped their actions, perceptions, and strategies concerning coffee cultivation, pest management, and climate change mitigation.
Collections
- MT - Agriculture [3999]
