DAMPAK PERUBAHAN IKLIM, TEKNOLOGI DAN PENGELUARAN PEMERINTAH TERHADAP KETAHANAN PANGAN DI SUMATERA
Date
2023Author
Teapon, Rizal Rahman H.
Harianto, Harianto
Siregar, Hermanto
Widyastutik, Widyastutik
Metadata
Show full item recordAbstract
Ketahanan pangan menjadi salah satu agenda penting pembangunan nasional yang dicanangkan oleh pemerintah tahun 2022-2024. Sistem ketahanan pangan yang baik akan membantu peningkatan akses masyarakat terhadap pangan, terjaminnya pasokan stok pangan, memperbaiki kualitas dan keamanan pangan serta terjaganya ketahanan dan keberlangsungan sumber daya alam. Pada dasarnya ketahanan pangan memiliki empat dimensi/pilar yaitu ketersediaan pangan (food availability), aksesibilitas pangan (food accessibility), pemanfaatan pangan (food utilization) dan stabilitas pangan (food stability).
Studi tentang ketahanan pangan di Sumatera menjadi urgen karena dilatarbelakangi oleh beberapa faktor antara lain: (1) Pola Pangan Harapan (PPH) konsumsi pangan sebagian besar daerah di Indonesia menunjukkan kondisi yang belum ideal termasuk di Sumatera. Hal demikian menuntut adanya peningkatan produksi bahan pangan dalam mendorong perbaikan konsumsi pangan penduduk; (2) Perkembangan penduduk yang semakin pesat, dimana sumatera menjadi pulau dengan jumlah populasi tertinggi setelah Jawa menjadikan produksi bahan pangan sebagai tumpuan utama dalam mendukung ketahanan pangan setiap individu; (3) Dilema dalam meningkatkan Pola Pangan Harapan (PPH) konsumsi pangan serta peningkatan populasi yang semakin pesat di Sumatera secara langsung akan mendorong peningkatan permintaan terhadap pangan sehingga produksi bahan pangan secara kuantitas maupun kualitas harus di jaga; (4) Tantangan lain yang timbul adalah ancaman perubahan iklim yang melanda di hampir seluruh wilayah Sumatera mengharuskan adanya intervensi teknologi pertanian, alokasi anggaran penelitian dan pengembangan teknologi, bantuan sosial serta anggaran ketahanan pangan sebagai upaya memitigasi dampak tersebut.
Tujuan penelitian ini adalah (1) Menganalisis perkembangan ketersediaan pangan, aksesibilitas pangan, pemanfaatan pangan, dan stabilitas pangan Sumatera; (2) Menganalisis faktor-faktor apa yang memengaruhi ketersediaan pangan, aksesibilitas pangan, pemanfaatan pangan, dan stabilitas pangan Sumatera; dan (3) Menganalisis dampak perubahan iklim, teknologi, dan pengeluaran pemerintah terhadap ketahanan pangan Sumatera. Penelitian ini menggunakan model persamaan simultan yaitu hubungan antar peubah bersifat dua arah serta adanya keterkaitan antara satu persamaan dengan persamaan lainnya di dalam model. Sistem persamaan simultan dalam penelitian ini meliputi 24 persamaan terdiri dari 19 persamaan struktural dan 5 persamaan identitas.
Penelitian ini memiliki kebaruan antara lain (i) Penemuan model ekonometrika terbaru tentang ketahanan pangan yang mengintegrasikan empat pilar yaitu Ketersediaan, aksesibilitas, pemanfaatan dan stabilitas pangan; (ii) Rekonstruksi/reformulasi determinan ketahanan pangan yang di breakdown dalam empat pilar ketahanan pangan; (iii) Penelitian ini lebih spesifik memasukkan 4 komoditi pangan strategis yaitu Beras, Jagung, Ubi Kayu, dan Ubi Jalar sebagai penyumbang 50 persen karbohidrat bagi manusia; (iv) Penelitian ini juga mengkonfirmasi adanya pengaruh beberapa variabel eksogen terhadap 4 pilar ketahanan pangan di Sumatera serta pengaruh perubahan iklim, teknologi dan pengeluaran pemerintah melalui simulasi kebijakan.
Perubahan iklim memberikan dampak negatif terutama sisi produksi, bahkan dampak negatif tersebut bergerak mempengaruhi variabel pada pilar aksesibilitas pangan yaitu peningkatan angka prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan, peningkatan kemiskinan, penurunan pertumbuhan ekonomi sub sektor tanaman pangan, penurunan PDRB dan pendapatan per kapita. Peran teknologi pertanian sangat penting dalam memitigasi dampak perubahan iklim terhadap produksi padi dan jagung sehingga berdampak positif pada pilar aksesibilitas pangan yaitu angka prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan, pertumbuhan ekonomi daerah, pendapatan per kapita serta kemiskinan. Selain itu berpengaruh juga pada variabel yang mepengaruhi pilar pemanfaatan pangan yaitu peningkatan angka harapan hidup, pola pangan harapan dan menekan persentase penduduk dengan status berat badan kurang, sangat kurang, gizi buruk dan gizi kurang.
Bantuan sosial memberikan dampak positif pada penurunan persentase prevalensi ketidakcukupan konsumi pangan dan kemiskinan. Kemudian mempengaruhi variabel-variabel pemanfaatan pangan yaitu peningkatan angka harapan hidup laki-laki maupun perempuan dan menurunkan persentase penduduk dengan berat badan sangat kurang. Anggaran ketahanan pangan berdampak positif pada pemanfaatan pangan melalui pilar ketersediaan dan aksesibilitas pangan yaitu penurunan persentase penduduk dengan berat badan kurang, gizi buruk, gizi kurang serta peningkatan angka harapan hidup dan pola pangan harapan. Kombinasi simulasi peningkatan anggaran ketahanan pangan dan bantuan sosial bersama-sama meningkatkan aspek supply dan demand pangan. Dampak positif bantuan pemerintah tersebut menurunkankan prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan dan berat badan kurang
Variabel yang mempengaruhi ketersediaan pangan dari sisi produksi adalah harga beras dan ubi kayu, pola pangan harapan padi-padian dan umbi-umbian, peningkatan harga CPO Rotterdam, dan pengaruh perubahan iklim. Variabel-variabel yang mempengaruhi ketersediaan pangan dari sisi konsumsi adalah harga jagung, harga ubi kayu, harga ubi jalar dan nilai tukar petani. Variabel yang mempengaruhi aksesibilitas pangan adalah konsumsi beras, alokasi bantuan sosial, persentase penduduk dengan berat badan kurang dan gizi buruk. Pada pilar pemanfaatan pangan variabel yang berpengaruh adalah pola pangan harapan padi-padian, konsumsi jagung, konsumsi ubi kayu, dan konsumsi ubi jalar, peningkatan pola pangan harapan padi-padian dan umbi-umbian, peningkatan pendapatan per kapita serta konsumsi jagung dan ubi kayu. Stabilitas pangan dipengaruhi oleh harga beras, harga jagung, dan harga ubi kayu tingkat konsumen. Variabel pandemi Covid-19 berpengaruh negatif terhadap inflasi pangan dalam jangka pendek.

