Show simple item record

dc.contributor.advisorSosromarsono, Soematono
dc.contributor.advisorSuseno, Rusmilah
dc.contributor.advisorRauf, Aunu
dc.contributor.authorWinasa, I. Wayan
dc.date.accessioned2023-07-12T15:20:23Z
dc.date.available2023-07-12T15:20:23Z
dc.date.issued1993
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/121708
dc.description.abstractAphis glycines mempunyai peranan penting sebagai vektor virus pada tanaman kedelai. Diketahui ada 5 jenis virus yang dapat ditularkan oleh kutudaun itu. Salah satu jenis virus yang dapat ditularkan adalah virus kerdil kedelai Indonesia (VKKI). Virus ini hanya dapat ditularkan melalui serangga vektor A. glycines dan penyambungan. Dengan demikian jelas bahwa penularan di lapangan melalui serangga vektor, dan kehadiran A. glycines menjadi sangat penting artinya dalam penyebaran virus tersebut di lapangan. Penelitian bertujuan mempelajari pemencaran dan perkembangan A. glycines dalam kaitannya dengan penyebaran VKKI pada tanaman kedelai. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca dan di lapang. Kegiatan penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut: (1) pemencaran A. glycines dan VKKI pada tanaman kedelai di lapang, (2) perkembangan populasi A. glycines pada tanaman kedelai di lapang, (3) kemampuan pemencaran nimfa dan imago tidak bersayap A. glycines, (4) kemampuan nimfa, imago bersayap dan imago tidak bersayap serta keturunan A. glycines dalam menularkan VKKI pada tanaman kedelai, (5) perkem- bangan A. glycines pada tanaman kedelai sehat dan terserang VKKI. Hasil pengamatan 11 hari setelah tanam (HST) menunjukkan bahwa tanaman yang terinfestasi A. glycines telah mencapai 0.27%. Pada pengamatan berikutnya jumlah tanaman yang terinfestasi terus meningkat, yaitu mencapai 97.54% pada umur 35 HST. Penyebaran tanaman yang terinfestasi pada awal infestasi terlihat acak, kemudian mengelompok dan akhirnya merata. Gejala tanaman yang terinfeksi VKKI mulai tampak setelah tanaman berumur 19 HST, dengan tingkat serangan 0.19%. Dari jumlah tanamar yang terinfestasi hanya sebagian kecil yang terinfeksi. Penyebaran tanaman yang terinfeksi sampai pada umur 39 HST terlihat acak, kemudian mengelompok setelah umur 59 HST. Elik IPB Un Perkembangan populasi A. glycines pada tanaman kedelai mencapai puncak pada umur 49 HST, kemudian pada umur selanjutnya kepadatan populasi menurun drastis. Pada umur 65 hari kepadatan populasi A. glycines pada tanaman sangat rendah. Imago bersayap hasil perkembangbiakan di dalam petak percobaan telah ditemukan pada umur tanaman 21 HST. Kemampuan memencar nimfa dan imago tidak bersayap A. glycines sangat rendah. Pemencaran nimfa dan imago tidak bersayap baru terjadi apabila populasi pada tanaman cukup padat atau ada tiupan angin. Nimfa, imago tidak bersayap dan imago bersayap A. glycines mempunyai kemampuan yang sama dalam penularan VKKI pada tanaman kedelai. VKKI tidak dapat ditularkan melalui keturunan A. glycines atau VKKI tidak transovarial pada vektor A. glycines. Perkembangan A. glycines pada tanaman kedelai sehat lebih baik dibandingkan pada tanaman terserang VKKI. Hal ini ditunjukkan oleh nilai R., Im, A yang lebih tinggi dan T yang lebih rendah pada tanaman sehat.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.subject.ddcField cropsid
dc.subject.ddcSoybeansid
dc.subject.ddcInsect pestid
dc.subject.ddcHomopteraid
dc.titlePemencaran aphis glycines matsumura (homoptera: aphididae) dalam kaitannya dengan penyebaran virus kerdil kedelai Indonesia pada tanaman kedelaiid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordAphis glycinesid
dc.subject.keywordmatsumuraid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record