Pola pertanian, industri, perdagangan kelapa dan kelapa sawit di Indonesia

Date
1987Author
Kemala, Sjafril
Kasryno, Faisal
Baharsjah, Sjarifuddin
Anwar, Affendi
Soebiapradja, Rachmat
Metadata
Show full item recordAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan alternatif pola optimal pertanian, industri, kelapa dan alternatif-perdagangan kelapa sawit tingkat nasional maupun regional, sehingga sahamnya dalam perekonomian nasional dapat lebih ditingkatkan.
Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder yang meliputi data luas dan produksi tanaman kelapa dan kelapa sawit; data tenaga kerja; data produksi bahan baku, bahan setengah jadi bahan jadi; data eksport dan import bahan baku, setengah jadi dan jadi; data biaya produksi dan pengolahan; data konsumsi bahan baku, setengah jadi dan jadi; data biaya transportasi. Data tersebut tingkat propinsi dan nasional.
Kajian pola optimal pertanian, industri dan perdagangan kelapa dan kelapa sawit ini dilakukan untuk tingkat nasional dan propinsi. Metoda kajian yang digunakan adalah kajian Perencanaan Linier (Linier Programming), dengan menggunakan 4474 aktivitas dan 887 kendala.
Pola optimal sesusi dengan pada penelitian ini alternatif-alternatif yang ingin didapat mengajukan model simulasi atas 3 skenario yaitu (1) skenario I, pola optimal atas dasar tingkat teknologi, sumber daya serta harga yang berlaku sekarang (1985); (2) skenario II, pola optimal atas dasar kebutuhan kelapa dan kelapa sawit sesuai dengan proyeksi tahun 2000 serta penggunaan kelapa dan kelapa sawit bebas bersaing; (3) skenario III, pola optimal atas dasar kebutuhan minyak goreng tahun 2000 terdiri dari 40% dari kelapa dan 60% dari kelapa sawit.
Hasil industri penelitian menunjukkan bahwa pola pertanian dan perdagangan kelapa dan kelapa sawit yang ada sekarang belum diusahakan secara optimal. Bila kelapa dan kelapa sawit diusahakan secara optimal akan memberikan sahan pada pendapatan nasional, pada skenario I sebesar 1.223,-milyar rupiah, pada skenario II sebesar 2.608, milyar rupiah dan pada skenario III sebesar 2.395, milyar rupiah.
Pada skenario I, luas optimal kelapa nasional 904.999 ha dengan produksi 1.019.220 ton eq. kopra. Dibandingkan dengan luas kelapa pada saat ini terdapat 1.089.984 ha dengan Daerah produksi 905.211 ton kopra tidak efisien diusahakan. produksi kelapa ini dapat diusahakan pada semua daerah produksi (25 propinsi), dimana 23 propinsi luas dan produksinya melebihi luas optimal dan 2 propinsi kecil dari luas optimal. Berarti pada 23 propinsi tersebut usahatani kelapa belum optimal dan tidak memberikan pendapatan maksimal bagi petani dibandingkan dengan alternatif lain yang mungkin lebih baik. Hal itu dikarenakan kelebihan produksi pada 23 propinsi tersebut akan menurunkan harga kelapa dan akan menurunkan pendapatan usahatani. Insentif ekonomi untuk perluasan areal diperkirakan hanya dapat terjadi pada 2 propinsi (propinsi D.I. Yogyakarta dan Sulawesi Tengah ...

