Analisis Tingkat Perkembangan dan Arahan Pembangunan Wilayah Di Provinsi Aceh
View/ Open
Date
2018Author
Ramadhan, Agus
Sutandi, Atang
Pravitasari, Andrea Emma
Metadata
Show full item recordAbstract
Kebijakan pembangunan wilayah meliputi kawasan pedesaan dan
perkotaan di Provinsi Aceh selama ini belum mampu memberikan perubahan
yang signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat. BPS Provinsi
Aceh (2017) menyebutkan bahwa tingkat kemisikinan Provinsi Aceh menempati
urutan pertama di Pulau Sumatera. Terkait dengan kewenangan otonomi daerah
terhadap pertumbuhan ekonomi, kebijakan pemekaran memberikan peluang dan
tantangan pemerintah daerah untuk mengelola sumberdaya yang dimiliki secara
efisien dan efektif. Setelah 10 tahun terakhir terjadi pemekaran kabupaten/kota
masih terdapat tingkat garis kemiskinan yang tinggi di Provinsi Aceh. Tinnginya
penduduk miskin memerlukan suatu penelitian untuk menganalisis tingkat
perkembangan wilayah sebagai acuan dalam pembangunan wilayah. Hasil
penelitian tersebut diharapkan bisa dijadikan dasar bagi pemrintah Provinsi Aceh
dalam merumuskan kebijakan pembangunan untuk mendorong pertumbuhan
ekonomi wilayah.
Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Menganalisis pertumbuhan ekonomi
Kabupaten/Kota di Provinsi Aceh; (2) Menganalisis tingkat perkembangan
wilayah Kabupaten/Kota Provinsi Aceh; (3) Mengidentifikasikan faktor-faktor
yang mempengaruhi tingkat perkembangan wilayah Kabupaten/Kota di Provinsi
Aceh; (4) Mengklasifikasikan kabupaten/kota di Provinsi Aceh berdasarkan
kemiripan karakteristik dan tingkat perkembangan wilayah; (5) Arahan
pembangunan wilayah di Provinsi Aceh. Analisis dilakukan dengan menggunakan
metode Tipologi Klassen, Indeks Diversitas Entropi, Skalogram, Gerographically
Weighted Regression, Clustering dan analisis deskriptif.
Hasil analisis tipologi klassen menunjukkan bahwa sebagian besar
kabupaten/kota di Provinsi Aceh berada pada kuadran IV (wilayah berkembang
cepat). Wilayah yang termasuk dalam kuadran I (Wilayah Maju) adalah Kota
Banda Aceh, Kota Sabang, Kabupaten Nagan Raya dan Kabupaten Aceh Tengah.
Wilayah pada kuadran II (Wilayah Maju Tapi Tertekan) yaitu Kota Lhokseumawe
Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Aceh Utara. Daerah yang berada pada
kuadran III (Wilayah Relatif Terbelakang) hanya terdapat satu daerah, yaitu
Kabupaten Aceh Timur, Kabupaten Aceh Tamiang dan Kabupaten Aceh Barat
Daya. Daerah yang berada pada kuadran (IV) Yaitu: Kabupaten Aceh Tenggara,
Kabupaten Gayo Lues, Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Bireuen, Kabupaten
Pidie Jaya, Kabupaten Pidie, Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Aceh Jaya,
Kabupaten Aceh Selatan, Kabupaten Aceh Singkil, Kabupaten Simeulue, Kota
Langsa Dan Kota Subulussalam. Regional development policies covering rural and urban areas in Aceh
Province so far have not been able to provide significant changes to the
improvement of community welfare. The Aceh Province BPS (2017) states that
the level of poverty in Aceh Province ranks first on the island of Sumatra.
Regarding regional autonomy authority on economic growth, the expansion policy
provides opportunities and challenges for local governments to manage their
resources efficiently and effectively. After the last 10 years there has been a
division of districts / cities, there is still a high level of poverty line in Aceh
Province. The least, the poor need a study to analyze the level of regional
development as a reference in regional development. The results of the study are
expected to be used as a basis for the government of Aceh Province in formulating
development policies to encourage regional economic growth.
The purpose of this study is (1) to analyze the economic growth of regencies
/ cities in Aceh Province; (2) Analyzing the level of development of the District /
City of Aceh Province; (3) Identifying factors that influence the level of
development of the Regency / City region in Aceh Province; (4) Classifying
districts / cities in Aceh Province based on similar characteristics and level of
regional development; (5) Directions for regional development in Aceh Province.
Analysis was carried out using the Klassen Typology method, Entropy Diversity
Index, Scalogram, Gerographically Weighted Regression, Clustering and
descriptive analysis.
The results of the Klassen typology analysis show that most districts / cities
in Aceh Province are in quadrant IV (fast developing regions). The regions
included in quadrant I (Advanced Region) are Kota Banda Aceh, Kota Sabang,
Kabupaten Nagan Raya and Kabupaten Aceh Tengah. Regions in quadrant II
(Advanced but Depressed Regions), namely the City of Kota Lhokseumawe,
Kabupaten Aceh Barat and Kabupaten Aceh Utara. There is only one area in
quadrant III (Relatively Retarded Region), namely Kabupaten Aceh Timur,
Kabupaten Aceh Tamiang, and Kabupaten Aceh Barat Daya. The area in
quadrant (IV) Namely: Kabupaten Aceh Tenggara, Kabupaten Gayo Lues,
Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Bireuen, Kabupaten Pidie Jaya, Kabupaten
Pidie, Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Aceh Selatan,
Kabupaten Aceh Singkil, Kabupaten Simeulue, Kota Langsa and Kota
Subulussalam.
Collections
- MT - Agriculture [3999]
