| dc.description.abstract | Saat ini pemerintah sedang mengembangkan minat kewirausahaan di
kalangan generasi muda dengan menyiapkan dukungan berupa pendanaan dan
pelatihan yang diberikan oleh beberapa kementerian, seperti Kementerian
Pariwisata & Bekraf, kemenkop, dan kemenristek. Dukungan ini terkait dengan
upaya pemerintah menargetkan satu juta entrepreneur di Indonesia. Langkah yang
dapat membantu kewirausahaan di Indonesia di antaranya melalui deregulasi
pemerintah, pengembangan tenaga teknis, membangun infrastruktural teknologi,
dan meningkatkan iklim investasi. Tidak semua usaha baru dapat bertahan dan
berkembang seperti yang diharapkan karena untuk dapat mencapai seperti yang
diinginkan perlu adanya dukungan dari lingkungan baik internal maupun eksternal
sehingga memiliki keunggulan yang memiliki daya saing. Dukungan secara internal
dan eksternal bagi usaha baru tersebut dapat diperoleh melalui keberadaan sebuah
ekosistem. Ekosistem adalah suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh
antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi. Keberadaan
komunitas kuliner menyediakan bantuan pada pelaku usaha yang menjadi
anggotanya berupa; pelatihan, kegiatan berbagi pengalaman sesama anggota,
legalitas usaha dan memfasilitasi bantuan modal baik dari pemerintah maupun
swasta dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas UMKM kuliner.
Tujuan Penelitian ini adalah untuk memetakan ekosistem pada komunitas
kewirausahaan kuliner, menganalisis faktor internal dan eksternal yang
mempengaruhi daya saing usaha dan menentukan variabel kunci ekosistem
kewirausahaan kuliner sehingga dapat merumuskan strategi pengembangan
ekosistem kewirausahaan kuliner.
Penelitian ini menggunakan dua pendekatan yaitu kuantitatif dan kualitatatif.
Kedua pendekatan digunakan dalam penelitian ini dengan penekanan pada
pendekatan kuantitatif, artinya bahwa data dikumpulkan baik melalui pendekatan
kualitatif maupun kuantitatif namun analisis yang dilakukan lebih pada pendekatan
kuantitatif. Terdapat tiga langkah penelitian yang digunakan, yaitu; pertama,
analisis ekosistem kewirausahaan dengan menggunakan analisis jejaring sosial.
Kedua, analisis faktor internal dan eksternal dengan menggunakan structure
equation model dan multigroup analysis. Dan ketiga yaitu menentukan variabel
kunci pada ekosistem kewirausahaan kuliner dengan menggunakan micmac.
Teknik sampling yang digunakan adalah respondent driven sampling dikarenakan
kurangnya informasi terkait komunitas kewirausahaan kuliner di indonesia. Dengan
menggunakan metode ego-sentris diperoleh 124 responden yang tergabung pada 6
komunitas kuliner.
Hasil penelitian menunjukan bahwa ekosistem kewirausahaan pada
komunitas wirausahawan kuliner adalah ekosistem yang kuat, hal ini ditunjukkan
bahwa semua aktor/pelaku usaha dalam ekosistem saling terhubung, namun hasil
densitas atau kerapatan menunjukan nilai dibawah 50% artinya arus informasi
penting dalam ekosistem masih dikategorikan lemah. Hasil tersebut diperkuat
v
melalui hasil structure equation model yang menunjukan bahwa dari tiga belas
hipotesis, yang memiliki nilai positif dan signifikan yaitu kapabilitas berpengaruh
langsung terhadap ekosistem dan daya saing, serta keterlekatan structural
berpengaruh langsung terhadap ekosistem. Artinya bahwa komunikasi antar aktor
tidak mempengaruhi daya saing dikarenakan muatan komunikasi belum
sepenuhnya berisi informasi penting untuk meningkatkan daya saing. Ekosistem
kewirausahaan pada komunitas wirausahawan kuliner adalah ekosistem yang
kondusif dengan tersedianya berbagai bantuan materi dan non materi bagi anggota
komunitas dengan hasil bahwa mayoritas anggota menyatakan adanya nilai tambah
bantuan yang tersedia pada usaha sebesar lebih dari 50%. Hasil ini kemudian
dilakukan konfirmasi pada para ahli dengan hasil bahwa variabel kunci untuk
pengembangan ekosistem kewirausahaan adalah pasar, modal dari pemerintah dan
sumber daya manusia.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dalam mengembangkan
ekosistem diperlukan adanya aktor sentral yang tidak berperan sebagai broker atau
penghubung namun sebagai orchestrator yang menggerakan elemen pada
ekosistem agar dapat saling terhubung dan bekerja sama sehingga dapat
meningkatkan daya saing pelaku usaha.
Implikasi manajerial dari penelitian ini adalah bagi pemerintah perlu
menelaah kebutuhan pelaku usaha sehingga kebijakan yang dikeluarkan sesuai
dengan kebutuhan pelaku usaha. Selain itu, perlu adanya aktor dalam ekosistem
yang bertindak sebagai orchestrator yang dapat menggerakan elemen-elemen yang
ada di ekosistem untuk meningkatkan daya saing usaha pelaku usaha | id |