Show simple item record

dc.contributor.advisorGunawan, Livy Winata
dc.contributor.advisorG. A. Wattimena
dc.contributor.advisorSalahuddin, Saleh
dc.contributor.authorWiendi, Ni Made Armini
dc.date.accessioned2023-06-27T14:07:44Z
dc.date.available2023-06-27T14:07:44Z
dc.date.issued1992
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/120352
dc.description.abstractTujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh air kelapa dan zealit pada berbagai kansentrasi, dan subkultur beruntun terhadap daya multiplikasi tunas Pisang Tanduk secara in vitro. Disamping itu juga ingin mengetahui konsentrasi IAA yang terbaik untuk pengakaran tunas hasil perbanyakan di atas. Untuk maksud tersebut dilakukan dua rangkaian percobaan yang saling berhubungan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman Jurusan Budi Daya Pertanian, Fakultas Pasca Sarjana, Institut Pertanian Bogar, Bogar. Percobaan I terdiri dari dua faktor, faktar pertama adalah tiga taraf konsentrasi air kelapa (10%, 20%, dan 30%), yang dikombinasikan dengan faktor kedua yaitu enam taraf konsentrasi zeolit (0, 5, 10, 15, 20, dan 25 g/1). Bahan tanaman berupa tunas steril berukuran tinggi 1 cm sampai 1.5 cm. Medium dasar yang digunakan adalah komposisi medium MS dengan penambahan BA (5 mg/1), IAA (0.1 mg/1), GA3 (0.3 mg/1), dan Malt ekstrak (5 g/1). Subkultur dilakukan sebanyak dua kali setiap tiga bulan. Percobaan II merupakan percobaan pengakaran tunas hasil subkultur II dengan menggunakan tiga taraf konsentrasi IAA sebagai perlakuan, yaitu 1 mg/1, 3 mg/1, 5 mg/1, dengan medium dasar MS. Kedua percobaan disusun secara Rancangan Acak Lengkap Faktorial. Hasil percobaan I menunjukkan multiplikasi tunas terjadi pada semua perlakuan mulai minggu ketiga setelah dikulturkan, walaupun tidak semua ulangan mengalami multiplikasi. Daya multiplikasi tunas untuk ketiga tahap perbanyakan dipengaruhi oleh interaksi antara air kelapa dengan zeolit. Pada tahap inisiasi awal media perlakuan terbaik untuk multiplikasi tunas adalah media dengan air kelapa 30% dan zeolit 20 g/1. Pada tahap subkultur I media yang terbaik adalah media dengan air kelapa 20% tanpa zeolit, sedangkan untuk tahap subkultur II adalah media dengan air kelapa 30% dan zeolit 5 g/1. Daya multiplikasi tunas saat disubkultur cenderung meningkat sampai subkultur kedua, dengan total jumlah tunas tertinggi diperoleh dari perlakuan air kelapa 20% tanpa zeolit yaitu 713.3 tunas. Dari percobaan II diperoleh hasil bahwa pemberian IAA sampai 3 mg/1 merangsang pembentukan akar dari tunas hasil subkultur II, dan menghambat bila ditingkatkan hingga 5 mg/1. Pembentukan akar ini juga dipengaruhi oleh interaksi antara asal tunas dengan Jumlah akar tertinggi dihasilkan dari IAA. dengan tunas berasal dari media dengan perlakuan 3 air kelapa tanpa zeolit yaitu 15.4 akar per tunas. mg/1 30% Media terbaik untuk perbanyakan tanaman pisang tanduk secara kultur jaringan dilihat dari segi tanaman lengkap yang dihasilkan adalah media dengan air kelapa 20% tanpa zeolit dengan media pengakaran ditambah auksin IAA 3 mg/1.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.subject.ddcFruitsid
dc.subject.ddcBananasid
dc.subject.ddcPlant propagationid
dc.titlePengaruh Air Kelapa, Zealit, dan Subkultur Beruntun terhadap Daya Multiplikasi Tunas Pisang Tanduk Secara In Vitroid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordMusa paradisiaceid
dc.subject.keywordTissue cultureid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record