Gerak Penduduk Pada Komunitas Padi Sawah : Studi Kasus di Tiga Daerah Pedesaan Sulawesi Selatan

Date
1987Author
Abustam, Muhammad Idrus
Sajogyo
S. M. P. Tjondronegoro
Hugo, Graeme J.
Walinono, Hasan
Metadata
Show full item recordAbstract
Dalam rangka perencanaan kebijakan di bidang gerak pen-duduk sebagai penunjang pembangunan (nasional, regional dan pedesaan), pengetahuan tentang pola dan perilaku gerak penduduk di berbagai daerah di Indonesia perlu diketahui. Khusus untuk daerah Sulawesi Selatan, studi gerak penduduk ini masih terbatas, padahal gejala sosial ini semakin meningkat. Kalaupun sudah dikaji, masih terbatas pada gerak penduduk permanen dan lebih banyak difokuskan pada pengaliran (out-flow) penduduk ke luar propinsi.
Studi gerak penduduk, di Indonesia pada umumnya dan di Sulawesi Selatan pada khususnya, belum banyak dikaitkan relevansinya dengan perubahan sosial-ekonomi penduduk, dan tidak atau belum dibahas dalam konteks pembangunan yang kegiatannya semakin meningkat. Studi semacam ini akan lebih berdayaguna bila dikaitkan dengan usaha-usaha pembangunan tersebut dan perubahan sosial-ekonomi.
Kegiatan-kegiatan pembangunan dapat mempengaruhi pola dan tingkat gerak penduduk. Sebaliknya, gerak penduduk mempengaruhi dan memperlancar pembangunan serta mengakibatkan perubahan sosial-ekonomi. Pada gilirannya pula, berbagai perubahan kelembagaan dan struktural mengakibatkan fenomena gerak penduduk meningkat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola dan tingkat gerak penduduk yang terjadi pada komunitas padi sawah, serta mengidentifikasi lapisan sosial-ekonomi yang mempunyai tingkat gerak yang tinggi. Dikaji pula faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku gerak penduduk mana pada masing-masing komunitas padi sawah dan sejauh mana proses modernisasi atau pembangunan mendorong penduduk desa bergerak ke luar desanya. Arti penting lainnya dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sumbangan gerak penduduk terhadap perubahan sosial-ekonomi pada komunitas padi sawah.
Tiga desa kasus yang dipilih berbeda dalam hal tingkat teknologi pertanian dan sumberdaya lingkungan. Desa pertama, yaitu Watangsidenreng, banyak mengalami inovasi perta-nian dan sumberdaya lingkungannya "baik" (desa "maju" atau Desa Tipe 1). Desa kedua, yaitu Camba-Camba, tidak banyak mengalami inovasi pertanian dan sumberdaya lingkungannya "terbatas", terutama karena iklim kering (desa "kurang maju" atau Desa Tipe 2). Desa ketiga, yaitu Tikala, juga tidak banyak mengalami inovasi pertanian dan sumberdaya lingkung-annya "terbatas" pula, tetapi dengan ketinggian dan kemi-ringan lereng yang besar sebagai pembatas (desa "kurang maju" atau Desa Tipe 3).
Pengambilan contoh di masing-masing desa dilakukan secara acak, dengan kerangka contoh rumahtangga tani yang didasarkan pada luas pemilikan sawah. Untuk masing-masing lapisan sosial-ekonomi, pengambilan contoh dilakukan secara ...
Collections
- DT - Human Ecology [639]

