Peningkatan Produksi Anak Babi Bali melalui Superovulasi dan Pemacuan

Date
1987Author
Suyadnya, I Putu
Partodihardjo, Soebadi
D. T. H. Sihombing
Martojo, Harimurti
Sastrohadinoto, Soenarjo
A. A. Mattjik
Metadata
Show full item recordAbstract
Terdorong oleh kebutuhan daging babi yang terus meningkat dari tahun ke tahun, angka kelahiran yang masih rendah pada babi Bali dan keinginan untuk menerapkan tehnologi maju untuk meningkatkan produksi anak babi Bali, maka dilakukan penelitian yang bertujuan mempelajari dan mencatat pengaruh superovulasi (pemberian suntikan hormon gonadotropin P.G. 600), pemacuan (penambahan glukosa pada ransum) dan interaksi antara keduanya terhadap produksi anak babi Bali yang dilahirkan dan disapih pada umur 42 hari, pada kelahiran pertama, kedua dan ketiga. Di samping itu, dicatat pula data dasar babi Bali yaitu, bobot lahir, bobot sapih dan angka kematian anak babi mulai dari lahir sampai saat disapih.
Ternak dan rancangan percobaan yang digunakan masing-masing 40 ekor babi Bali dara dan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial 2 x 2, dilakukan di Stasiun Penelitian Fakultas Peternakan, Universitas Udayana, Denpasar, Bali.
Suntikan P.G. 600 diberikan sebanyak dua ampul (setiap ampul mengandung 400 i.u. serum gonadotropin dan 200 1.u. chorionic gonadotropin) per ekor induk, dilakukan pada hari ke-16 siklus berahi kedua untuk babi dara dan segera sesudah anak disapih untuk babi induk, sedangkan penambahan glukosa pada ransum sebanyak 1.5 persen dari bobot badan per hari, masing-masing dilakukan mulai hari ke-14 siklus berahi kedua sampai saat dikawinkan untuk babi dara dan segera sesudah anak disapih sampai saat dikawinkan kembali untuk babi induk.
Empat macam perlakuan penelitian yang diberikan kepada induk-induk babi tersebut adalah HoGo (kontrol), H₁Go (superovulasi), HOG₁ (pemacuan) dan H₁G₁ (kombinasi super-ovulasi dan pemacuan).
Komposisi ransum terdiri dari campuran batang pisang (45%), dedak padi (30%), hijauan (20%), sisa dapur (kerak nasi) (4%) dan mineral 10 garam dapur (1%), diberikan ad libitum dalam bentuk basah, dua kali dalam sehari.
Rataan produksi anak babi yang dilahirkan dari induk-induk babi Bali yang diberi perlakuan penelitian masing-masing 4.90, 6.20, 6.30 dan 7.40 ekor pada kelahiran per-tama; 6.44, 7.22, 7.44 dan 8.56 ekor pada kelahiran kedua; dan 6.63, 7.50, 7.63 dan 9.50 ekor pada kelahiran ketiga. Pengaruh faktor G (glukosa) memberikan hasil yang lebih baik daripada faktor H (hormon) dan tidak didapatkan adanya pengaruh yang nyata dari faktor I (interaksi) terhadap peningkatan produksi anak babi yang dilahirkan pada kelahiran pertama, kedua dan ketiga (pada selang kepercayaan 95%). Peningkatan produksi yang terbanyak dari anak babi yang dilahirkan karena pengaruh perlakuan superovulasi atau pemacuan didapatkan pada kelahiran pertama, sedangkan peningkatan produksi yang terbanyak karena pengaruh perlakuan kombinasi superovulasi dan pemacuan, didapatkan pada kelahiran ketiga. ...
Collections
- DT - Veterinary Science [306]

