Show simple item record

dc.contributor.advisorHidayat, Purnama
dc.contributor.advisorPudjianto
dc.contributor.authorPuspitasari, Mahardika
dc.date.accessioned2023-06-07T05:27:48Z
dc.date.available2023-06-07T05:27:48Z
dc.date.issued2015
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/118554
dc.description.abstractHama tanaman merupakan salah satu faktor penyebab penurunan produksi kedelai yang dapat menyebabkan kehilangan hasil hingga 80% bahkan puso apabila tidak dikendalikan. Upaya pengendalian hama yang dilakukan oleh petani umumnya dengan penyemprotan pestisida. Namun, penggunaan pestisida yang tidak bijaksana dapat mengakibatkan resurgensi dan resistensi serangga hama. Pengendalian hama terpadu (PHT) merupakan suatu cara pengendalian hama dan penyakit yang didasarkan pada pertimbangan ekologi dan efisiensi ekonomi yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Salah satu pola PHT yang diusulkan dalam penelitian ini adalah pengendalian dengan menggabungkan beberapa cara seperti penggunaan PGPR, varietas kedelai unggul, insektisida nabati, agen hayati dan tanaman pinggir. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pola pengelolaan hama terhadap populasi serangga hama pada lahan kedelai varietas Anjasmoro dan Wilis. Penelitian dilakukan pada musim kemarau II (MK II), yaitu pada bulan Juni sampai dengan September 2013 di kebun percobaan BALITKABI, Desa Ngale, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Percobaan dilakukan dengan Rancangan Acak Kelompok dengan dua ulangan. Percobaan menggunakan kedelai varietas Anjasmoro dan varieas Wilis yang merupakan varietas yang tahan rebah dan tahan terhadap serangan penyakit karat daun. Perlakuan pengelolaan hama yang diterapkan adalah: pengelolaan hama terpadu, pengendalian non-kimiawi, pengendalian kimiawi, dan kontrol. Pada petak pengendalian hama terpadu kombinasi pengendalian yang dilakukan adalah perlakuan plant growth promoting rhizobacteria (PGPR), penggunaan tanaman pinggir jagung, insektisida botanis ekstrak mimba, dan pestisida sintetik. Pada petak pengendalian non-kimiawi mendapat perlakuan PGPR, biopestisida spodoptera litura nuclopolyhedrovirus (SlNPV), dan insektisida botanis ekstrak mimba. Pada petak pengendalian kimiawi hanya dilakukan pengendalian dengan pestisida sintetik terjadwal sebanyak enam kali per musim tanam. Sedangkan pada petak kontrol tidak dilakukan pengendalian apapun. Masing-masing petak perlakuan berukuran 10 m x 10 m. Pengamatan dilakukan terhadap populasi dan intensitas kerusakan yang disebabkan oleh hama utama kedelai. Hama utama yang diamati adalah Ophiomya phaseoli, Aphis gossypii, Lamprosema indicata, Spodoptera litura, Bemisia tabaci, Riptortus linearis dan Etiella zinckenella. Pengamatan dilakukan sejak 7 hari setelah tanam (HST) sampai dengan panen. Hasil produksi kedelai pada masing-masing petak dihitung dengan menimbang biji kering kedelai yang dipanen dengan cara ubinan berukuran 2 m × 5 m pada masing-masing petak. Hasil penelitian menunjukkan waktu kemunculan serangga hama pada pertanaman kedelai varietas Anjasmoro dan Wilis berbeda-beda sesuai dengan fenologi tanaman kedelai. Hama yang muncul pada fase vegetatif tanaman yaitu lalat kacang (O. phaseoli), sedangkan hama yang muncul pada fase vegetatif dan generatif tanaman adalah kutukebul (B. tabaci), ulat grayak (S. litura) dan ulat penggulung daun (L. indicata). Kepik penghisap polong (R. linearis), ulat penggerek polong (E. zinckenella) dan kutudaun (A. gossypii) muncul hanya pada fase generatif tanaman. Pada penelitian ini ditemukan hama baru yang belum pernah dilaporkan sebelumnya yaitu Caloptilia sp. (Lepidoptera: Gracilariidae). Intensitas kerusakan akibat serangan hama lalat kacang dan ulat grayak rendah pada petak dengan pola pengendalian non-kimiawi pada varietas Anjasmoro, sedangkan pada varietas Wilis tidak berbeda. Intensitas kerusakan yang disebabkan oleh ulat penggulung daun, kepik penghisap polong dan ulat penggerek polong tidak dipengaruhi oleh pola pengelolaan hama yang berbeda baik pada varietas Anjasmoro maupun pada varietas Wilis. Pengendalian hama terpadu mempengaruhi populasi kutu kebul pada varietas Anjasmoro sedangkan pada varietas Wilis pola pengelolaan hama tidak mempengaruhi populasi kutukebul. Populasi lalat kacang, kutudaun, ulat penggulung daun, ulat grayak, kepik penghisap polong dan ulat penggerek polong tidak dipengaruhi oleh pola pengelolaan hama yang berbeda. Populasi hama dalam penelitian ini rendah disebabkan oleh adanya curah hujan yang tinggi pada awal penanaman. Rendahnya populasi hama menyebabkan hasil pengamatan terhadap populasi dan intensitas kerusakan menunjukkan hasil yang tidak signifikan. Pola pengelolaan hama pada pertanaman kedelai varietas Anjasmoro dan varietas Wilis mempengaruhi produktivitas kedelai. Produksi kedelai varietas Anjasmoro pada petak dengan pola pengelolaan hama PHT, pengendalian non-kimiawi, pengendalian kimiawi dan kontrol berturut-turut sebesar 16.4 kg/100 m2, 16.9 kg/100 m2, 15.8 kg/100 m2 dan 15.5 kg/100 m2. Sedangkan produksi kedelai varietas Wilis pada petak dengan perlakuan yang sama berturut-turut sebesar 21.9 kg/100 m2, 21.8 kg/100 m2, 23.1 kg/100 m2 dan 20.2 kg/100 m2. Produksi kedelai varietas Anjasmoro rendah disebabkan oleh adanya serangan virus dengan insidensi penyakit mencapai 80% pada petak tanpa perlakuan pengelolaan hama. Pola pengelolaan hama berpengaruh pada hasil produksi varietas Wilis, namun tidak berpengaruh pada varietas Anjasmoro. Hasil produksi kedelai varietas Wilis tinggi pada petak dengan pengelolaan hama secara PHT, non-kimiawi dan kimiawi.id
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.subject.ddcZoologyid
dc.subject.ddcEntomologyid
dc.subject.ddc2014id
dc.titlePengaruh Pola Pengelolaan Hama terhadap Populasi Serangga Hama pada Lahan Kedelai Varietas Anjasmoro dan Wilisid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordsoybean pestid
dc.subject.keywordIPMid
dc.subject.keywordpest populationid
dc.subject.keywordWilis varietyid
dc.subject.keywordAnjasmoro varietyid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record