Show simple item record

dc.contributor.advisorSugita, Purwantiningsih
dc.contributor.advisorAmbarsari, Laksmi
dc.contributor.authorFarichah, Farida
dc.date.accessioned2023-06-06T02:03:51Z
dc.date.available2023-06-06T02:03:51Z
dc.date.issued2011
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/118406
dc.description.abstractKitosan merupakan material yang terus dikembangkan keberadaanya sebagai biopolimer alam yang aman dan banyak memiliki aplikasi. Sifat kitosan yang biokompatibel, biodegradabel, nontoksik dan murah (Sailaja 2010) menyebabkan kitosan memiliki kemampuan sebagai matriks dalam sistem penghantaran obat ke dalam tubuh (Felt et al. 2009). Seperti halnya Yamada et al. (2001) yang telah menggunakan membran kitosan ini sebagai penyalut obat antiradang ketoprofen. Modifikasi kitosan perlu dilakukan agar aplikasi kitosan sebagai sistem penghantaran obat (drug delivery system) lebih optimal. Modifikasi tersebut dapat dilakukan secara kimia atau fisika dengan tujuan untuk memperbaiki stabilitas kitosan melalui fungsionalisasi gugus fungsi yang ada, memperbaiki ukuran pori kitosan dengan menggunakan senyawa porogen dan dapat menaikkan kapasitas adsorpsi kitosan apabila kitosan dipadukan dengan polimer lain dan untuk meningkatkan kemampuan penetrasinya dalam tubuh. Aplikasi kitosan dalam drug delivery system harus memperhatikan beberapa faktor diantaranya pencapaian target, adanya penghalang (barrier) dalam sistem metabolisme tubuh dan pelepasan kembali zat aktif pada sel target pengobatan. Hal tersebut mendorong perlunya pengaturan ukuran partikel kitosan melalui modifikasi fisik seperti nanopartikel. Wahyono (2010) melaporkan bahwa nanopartikel kitosan dapat dibuat dengan metode sonikasi yang dilanjutkan dengan sentrifugasi. Pilli (2010) menyatakan bahwa pengurangan ukuran partikel dengan ultrasonikasi dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya lamanya sonikasi, densitas sonikasi, daya, volume endapan, dan karakteristik endapan. Selanjutnya Pilli (2010) melaporkan bahwa peningkatan waktu sonikasi dapat mengurangi ukuran partikel secara bertahap, seperti contohnya pengurangan ukuran partikel dari 165 μm menjadi 135 μm dan 85 μm dengan waktu sonikasi 0,49 menit dan 1,6 menit. Hal yang sama, Biggs dan Lant (1998) mengamati pengurangan ukuran partikel dari 125 mm menjadi 10 mm setelah sonikasi selama 5 menit (50W, 100 ml). Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah nanopartikel kitosan terisi ketoprofen dengan metode sonikasi berdasarkan ragam waktu dan amplitudo sonikasi. Formulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah formula tiga terbaik dari penelitian Wahyono (2010) dengan asumsi formula tersebut merupakan formula yang memiliki jumlah nanopartikel terbanyak dan nilai efisiensi penjerapan tertinggi. Hasil pengukuran turbiditas menunjukkan bahwa kondisi optimum sonikasi adalah amplitudo 20% dan waktu sonikasi 60 menit. Pengukuran dengan PSA menunjukkan bahwa semakin kecil angka turbiditas suatu larutan semakin kecil ukuran partikel didalamnya. Hasil analisis PSA menunjukkan bahwa ketiga formula memiliki ukuran partikel yang seragam. Ketiga formula memiliki ukuran partikel rata-rata kurang dari 500 nm. Ukuran partikel rata-rata formula B lebih...dstid
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.titlePeningkatan Jumlah Nanopartikel Kitosan Terisi Ketoprofen dengan Metode Sonikasi Berdasarkan Ragam Waktu dan Amplitudo Sonikasi.id
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordchitosanid
dc.subject.keywordultrasonicationid
dc.subject.keywordnanoparticle sizeid
dc.subject.keywordentrapment efficiencyid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record