Show simple item record

dc.contributor.advisorRetnani, Elok Budi
dc.contributor.advisorRidwan, Yusuf
dc.contributor.authorDjungu, Dewi FL
dc.date.accessioned2023-05-30T06:30:30Z
dc.date.available2023-05-30T06:30:30Z
dc.date.issued2014
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/118196
dc.description.abstractThelaziosis adalah kecacingan pada mata yang disebabkan oleh nematoda. Siklus hidup cacing ini memerlukan inang antara lalat dari famili Muscidae. Kabupaten Kupang merupakan daerah yang memiliki potensi peternakan sapi potong yang cukup besar. Umumnya sapi potong di Kabupaten Kupang dipelihara secara tradisional dengan cara digembalakan di padang penggembalaan. Metode pemeliharaan ini memiliki risiko terinfeksi oleh berbagai penyakit diantaranya thelaziosis. Informasi thelaziosis di Kabupaten Kupang sangat minim. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui spesies Thelazia, tingkat prevalensi, derajat infeksi, gejala klinis dan faktor risiko terkait kejadian thelaziosis. Survei thelaziosis di Kabupaten Kupang dilakukan dengan menggunakan metode cross-sectional. Sebanyak 385 ekor sapi diambil sebagai sampel dari 96 peternakan yang dipilih secara acak dari tiga kecamatan dari Kabupaten Kupang. sampel sapi diamati gejala klinis akibat thelaziosis dan cacing yang terdapat pada mata sapi dikoleksi menggunakan pinset setelah di berikan cairan anestesi lokal (10% Xylocaine). Informasi tentang umur ternak, sumber daya manusia dan manajemen peternakan yang berpotensi sebagai faktor risiko thelaziosis diperoleh melalui wawancara menggunakan metode kuesioner. Pengaruh berbagai faktor risiko terhadap nilai prevalensi thelaziosis dianalisis menggunakan chi-square, sedangkan untuk mengetahui besarnya pengaruh setiap faktor risiko dianalisis menggunakan regresi logistik. Sebanyak 357 cacing (157 jantan dan 210 betina) yang dikoleksi dari 23 ekor sapi yang terinfeksi, dengan rataan jumlah cacing sebanyak 32.92 ± 21.03 ekor. Berdasarkan hasil pengamatan morfometrik, cacing yang ditemukan diidentifikasi sebagai spesies Thelazia rhodesii. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi thelaziosis rhodesii 5.97 % (23/385), sebanyak 22 ekor sapi yang terinfeksi menunjukkan gejala klinis yaitu lakrimasi yang berlebihan dan konjungtivitis yang mengarah ke keratokonjungtivitis, sementara satu ekor sapi menunjukkan ulserasi. Hasil analisis terhadap faktor risiko infeksi menunjukkan bahwa sapi yang berumur >6-12 bulan dan >12 bulan memiliki prevalensi lebih tinggi dari sapi yang berumur 0-6 bulan (P<0.05). Faktor risiko infeksi yang bersumber dari manajemen peternakan yang mempengaruhi prevalensi thelaziosis pada sapi adalah pengobatan terhadap cacing, manajemen penggembalaan, pembersihan kandang dan pengelolaan feses. Pengobatan menggunakan anthelmintik setahun sekali memiliki risiko terinfeksi Thelazia spp 19.06 (P<0.05) kali lebih tinggi dibandingkan pengobatan menggunakan anthelmintik dua kali setahun. Pembersihan kandang secara teratur sebulan sekali memiliki risiko terhadap infeksi T.rhodesii 124.08 (P<0.05) kali lebih tinggi dari yang dibersihkan setiap hari. Lokasi penggembalan di padang rumput memiliki risiko terinfeksi Thelazia spp 19.3 (P<0.05) lebih tinggi dibandingkan di sawahid
dc.language.isoidid
dc.titleThelaziosis pada Ternak Sapi Potong Peternakan Rakyat di Kabupaten Kupangid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordThelazia rhodesiiid
dc.subject.keywordsapiid
dc.subject.keywordprevalensiid
dc.subject.keywordderajat infeksiid
dc.subject.keywordfaktor risikoid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record