Show simple item record

dc.contributor.advisorSumawinata, Basuki
dc.contributor.advisorDjajakirana, Gunawan
dc.contributor.advisorDjuniwati, Sri
dc.contributor.authorAsridawati, Syofia
dc.date.accessioned2023-05-26T02:43:11Z
dc.date.available2023-05-26T02:43:11Z
dc.date.issued2012
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/118037
dc.description.abstractIndonesia kaya akan gunung api yang merentang mulai dari Aceh, Lampung, Jawa, Nusa Tenggara, Sulawesi dan Maluku. Hasil letusan gunung api di antaranya adalah batuan volkanik yang mengandung mineral yang beragam. Di lain pihak, Indonesia memiliki tanah miskin/tanah tua seperti di sepanjang pantai timur Sumatera dan Kalimantan. Oleh karenanya banyak yang mengharapkan hasil erupsi gunung api dapat dimanfaatkan untuk mensuplai mineral bagi tanah-tanah miskin yang mempunyai cadangan mineral rendah. Aplikasi pupuk tepung batuan silikat dalam bidang pertanian sangat terbatas, karena pada umumnya bersifat sangat lambat tersedia, sehingga pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman tidak nyata dalam jangka waktu pendek. Beberapa cara praktis untuk mempercepat pelarutan hara dari pupuk tepung batuan silikat ke dalam larutan tanah telah dikaji, misalnya batuan silikat basalt yang diinkubasi dengan asam humat lignit selama 5 minggu dapat meningkatkan pelepasan unsur hara dari batuan tersebut, namun penelitian ini tidak dilakukan efeknya terhadap tanaman. Salah satu alternatif lain untuk meningkatkan ketersediaan hara dari pupuk tepung batuan agar dapat dimanfaatkan adalah dengan cara pemanasan. Pada penelitian ini diharapkan bahwa dengan pemanasan dan penambahan bahan pelarut pada tepung batuan, proses pelapukan mineral dapat lebih dipercepat sehingga mudah melepaskan kation-kation tertentu dari struktur kristal mineral ke dalam larutan tanah dan ketersediaan unsur hara bagi tanaman pun akan meningkat. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Split Plot 3 faktor di mana: faktor I sebagai petak utama yaitu 3 jenis suhu pemanasan (250C, 3000C dan 7000C), faktor II sebagai anak petak yaitu 3 jenis tepung batuan (trakit, diorit dan basalt) dan faktor III sebagai anak petak yaitu 4 jenis bahan pelarut (KOH 0,1N, air hujan, humat gambut dan humat lignit). Dari perlakuan di atas diperoleh 36 kombinasi dan 1 perlakuan pembanding menggunakan pupuk majemuk standar rekomendasi dan masing-masing perlakuan diulang 3 kali sehingga diperoleh 111 unit percobaan. Tinggi tanaman jagung umur 14 HST tertinggi akibat pemberian bahan pelarut humat, namun pada umur 21, 28 dan 35 HST tertinggi akibat pemberian tepung batuan basalt, sedangkan bobot kering tanaman tertinggi akibat pemberian tepung batuan basalt dengan pemanasan suhu 7000C, tetapi tidak dipengaruhi bahan pelarut. Kadar dan serapan hara K tanaman jagung tertinggi akibat pemberian tepung batuan basalt yang diperlakukan pemanasan suhu 3000C, sedangkan kadar dan serapan hara Ca, Mg dan Mn tertinggi akibat pemberian tepung batuan basalt yang diperlakukan pemanasan suhu 7000C. Kadar dan serapan hara mikro (Fe, Cu dan Zn) tanaman jagung tidak dipengaruhi perlakuan tepung batuan, pemanasan dan bahan pelarut, sedangkan kadar dan serapan hara makro (K, Ca dan Mg) tanaman jagung tidak dipengaruhi bahan pelarut, namun ada kecenderungan pengaruh bahan pelarut humat lebih tinggiid
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.titleSerapan Hara Tanaman Jagung (Zea mays L.) Akibat Penambahan Tepung Batuan yang diperlakukan: Pemanasan dan Bahan Humatid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordbatuanid
dc.subject.keywordpupuk alamiid
dc.subject.keywordhumatid
dc.subject.keywordjagungid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record