| dc.description.abstract | Produktivitas cengkeh (Syzigium aromaticum Linn.) di Indonesia masih
rendah dibandingkan dengan potensinya. Salah satu alasannya adalah rendahnya
penggunaan benih bermutu. Cengkeh yang menyebar luas dihampir seluruh
wilayah Indonesia dengan kondisi agroklimat, umur dan pola budidaya beragam
memerlukan ketersediaan benih tepat mutu, jumlah dan waktu. Viabilitas sebagai
tolok ukur mutu fisiologis benih ditentukan oleh tingkat kemasakan benih dan
penanganan benih sesaat setelah benih dipetik dari pohon induknya atau selama
periode konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan periode masak
fisiologis, pengembangan metode uji daya berkecambah dan teknik konservasi
benih cengkeh. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Penyimpanan dan
Pengujian Mutu Benih dan Kebun Percobaan Leuwikopo, Departemen Agronomi
dan Hortikultura, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor dari bulan Januari
2017 sampai dengan Desember 2018.
Penelitian terdiri dari dua percobaan. Percobaan pertama adalah penentuan
masak fisiologis dan pengembangan metode uji daya berkecambah benih cengkeh.
Benih yang digunakan berasal dari Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah.
Percobaan menggunakan rancangan acak lengkap faktorial. Faktor pertama adalah
tingkat kemasakan benih: buah berwarna merah hijau merah, merah muda, merah
dan merah tua. Faktor kedua adalah jenis media perkecambahan: pasir, cocopit
dan zeolit. Setiap satuan percobaan terdiri atas 45 butir benih. 40 butir untuk uji
daya berkecambah dan 5 butir benih untuk uji kadar air pada suhu oven. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa media pasir adalah media terbaik untuk
perkecambahan benih cengkeh. Pengamatan pertama benih cengkeh adalah 27
hari setelah tanam (HST) dan pengamatan kedua adalah 47 HST. Periode masak
fisiologis benih diperoleh pada buah merah dengan daya berkecambah (100%),
indeks vigor (73.75%) dan kecepatan tumbuh (1.19%/etmal).
Percobaan kedua adalah teknik konservasi benih cengkeh. Benih yang
digunakan adalah benih dengan tingkat kemasakan terpilih dari percobaan
pertama yang berasal dari Padang, Sumatera Barat. Percobaan menggunakan
rancangan acak lengkap faktorial. Faktor pertama adalah kondisi ruang simpan:
air conditioning (AC) dan kamar. Faktor kedua adalah media simpan: zeolit dan
tanpa zeolit. Faktor ketiga adalah periode konservasi: 0, 1, 2, 3 dan 4 minggu.
Setiap satuan percobaan terdiri atas 30 butir benih. 25 butir untuk uji daya
berkecambah dan 5 butir benih untuk uji kadar air pada suhu oven untuk setiap
periode konservasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa benih dapat
dipertahankan viabilitasnya hingga periode konservasi 3 minggu dalam media
zeolit pada suhu ruang AC dengan kadar air (56.28%), daya berkecambah (100%)
indeks vigor (50.67% dan 32%) serta kecepatan tumbuh (0.52%/etmal). | id |