Show simple item record

dc.contributor.advisorAvenzora, Ricky
dc.contributor.advisorDarusman, Dudung
dc.contributor.advisorPrihatno, Joko
dc.contributor.advisorArief, Harnios
dc.contributor.authorUntari, Dhian Tyas
dc.date.accessioned2023-05-11T03:22:04Z
dc.date.available2023-05-11T03:22:04Z
dc.date.issued2017
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/117481
dc.description.abstractTingginya potensi kuliner sebagai penunjang kegiatan wisata bukan hanya karena fungsinya sebagai pemenuh kebutuhan pokok tetapi lebih jauh kuliner dapat digunakan sebagai alat politik dalam memperkenalkan budaya yang dimiliki kepada masyarakat dunia. Keragaman kebutuhan manusia terhadap kuliner saat ini semakin berkembang, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis semata, tapi saat ini kuliner juga menunjukan posisi status ekonomi seseorang. Kuliner merupakan sebuah refleksi budaya dan hubungan yang terjadi antara manusia dan ekologi lingkungannya (Marten 2001). Produksi kuliner akan sangat terkait dengan ketersediaan bahan baku kuliner yang disediakan oleh lingkungannya, dengan demikian pembahasan tentang kuliner tradisional Indonesia memiliki posisi yang sangat strategis. Tetapi dalam perkembangannya kuliner asing dan kuliner fusion semakin mempersulit mencari ceruk pasar bagi pengembangan kuliner tradisional Indonesia. Oleh sebab itu perlu sebuah penanganan yang intensif dan berkelanjutan dalam menangani dan mengembangkan kuliner di Indonesia, agar potensi kuliner yang ada di Indonesia dapat dikelola secara maksimal. Makanan sebagai produk kuliner menjadi salah satu indikasi keberhasilan pembangunan yang berkelanjutan di sebuah negara, dimana penekanan terhadap pemenuhan kebutuhan pangan penduduk menjadi salah satu indikatornya. Penduduk sebagai salah satu objek pembangunan mengalami tren naik hingga mencapai 5,8 milyar (World Bank; 2013), hal ini juga terjadi di Indonesia dimana proyeksi peningkatan penduduk akan mencapai 1,38 persen pertahun (Bapenas; 2013). Populasi penduduk di Asia yang begitu besar mengakibatkan besarnya persentase konsumsi pangannya (Indonesia > 47%; Myanmar > 70,1%; Kamboja >70%; Filipina > 47%; Thailand > 40%; Singapura > 20% dan; Vietnam >50%). Sedangkan negara di Amerika dan Canada dengan penduduk lebih dari 300 juta memiliki proporsi nilai konsumsi makanan kurang lebih 15%, Australia < 20% (FAO; 2014). Dengan demikian maka bisnis kuliner dengan menyediakan kebutuhan pangan memiliki peluang yang sangat besar, baik dimasa kini maupun masa akan datang.
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.subject.ddcEcotourism Management and Environmental Services
dc.titleStrategi Pengembangan Ekowisata Kuliner Tradisional Betawi Di DKI Jakartaid
dc.typeDissertationid


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record