Show simple item record

dc.contributor.advisorPravitasari, Andrea Emma
dc.contributor.advisorRustiadi, Ernan
dc.contributor.authorHendriany, Reni
dc.date.accessioned2023-02-02T00:06:11Z
dc.date.available2023-02-02T00:06:11Z
dc.date.issued2023-02-02
dc.identifier.urihttp://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/116562
dc.description.abstractPangandaran District is a newly expanded area in West Java Province. Pangandaran District is included in the East Priangan and Pangandaran development areas which are directed as part of the Regional Activity Center for food crops and horticulture activities as well as national and international tourist destinations. Regional development based on the potential of leading sectors is needed for the implementation of regional development that is effective and has competitiveness. The purpose of this analysis is to identify leading sectors in Pangandaran District and inter-sectoral linkages, as well as to formulate directions in regional development planning for Pangandaran District based on leading sectors. The method used in this study consists of (1) Location Quotient and Shift Share Analysis to find out the leading sectors, (2) Input-Output Analysis to find out the interrelationships between sectors and the impact of the multiplier value, (3) AWOT in the form of a combination of AHP and SWOT methods to determine the priority of policy directions in regional development planning. The results of the analysis show that in Pangandaran District there are 5 (five) leading sectors, namely: the accommodation, food and drink provider sector, the agriculture, forestry and fisheries sector, the real estate sector, the transportation and warehousing sector, and the corporate services sector. The greatest backward linkage is achieved by other service sectors. This sector is a lever for the development of the upstream sector. Meanwhile, the biggest future linkages are the agriculture, forestry and fisheries sectors. The output from the agricultural, forestry and fisheries sectors is widely used as input by other sectors. Sectors included in the key sector criteria are agriculture, forestry and fisheries. This is because the agricultural, forestry and fisheries sectors have the largest linkage index and distribution index. The sector that has the largest output multiplier value is the other service sector. The sector that has the largest GRDP multiplier value is the agriculture, forestry and fisheries sector. The direction for regional development in Pangandaran District based on the AWOT analysis prioritized the development of sustainable agricultural cultivation to utilize the vast potential of agricultural land (agriculture, plantations and fisheries).id
dc.description.abstractKabupaten Pangandaran merupakan wilayah pemekaran baru di Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Pangandaran termasuk pada wilayah pengembangan Priangan timur dan Pangandaran yang diarahkan sebagai bagian dari Pusat Kegiatan Wilayah untuk kegiatan tanaman pangan dan hortikultura serta sebagai daerah tujuan wisata nasional dan internasional. Pengembangan wilayah berbasis potensi sektor unggulan diperlukan guna pelaksanaan pembangunan daerah yang efektif serta memiliki daya saing. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sektor unggulan di Kabupaten Pangandaran dan keterkaitan antar sektor, serta untuk menyusun arahan dalam perencanaan pengembangan wilayah Kabupaten Pangandaran berbasis sektor unggulan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari (1) Location Quotient dan Shift Share Analysis untuk mengetahui sektor unggulan, (2) Analisi Input-Output untuk mengetahui keterkaitan antar sektor dan dampak nilai pengganda, (3) A’WOT berupa gabungan metode AHP dan SWOT untuk menentukan prioritas arahan kebijakan dalam perencanaan pengembangan wilayah. Hasil analisis menunjukkan bahwa di Kabupaten Pangandaran terdapat 5 (lima) sektor unggulan yaitu: sektor penyedia akomodasi, makan dan minum, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, sektor real estate, sektor transportasi dan pergudangan, dan sektor jasa perusahaan. Keterkaitan ke belakang terbesar dicapai oleh sektor jasa lainnya. Sektor tersebut menjadi pengungkit untuk perkembangan sektor hulunya. Sedangkan keterkaitan ke depan terbesar itu adalah sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Output dari sektor pertanian, kehutanan dan perikanan banyak digunakan sebagai input oleh sektor lainnya. Sektor yang termasuk pada kriteria sektor kunci adalah sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Hal ini dikarenakan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan memiliki indeks keterkaitan dan indeks penyebaran terbesar. Sektor yang memiliki nilai pengganda output terbesar adalah sektor jasa lainnya. Sektor yang memiliki nilai pengganda PDRB terbesar yaitu sektor pertanian, kehutanan dan perikanan. Arahan pengembangan wilayah di Kabupaten Pangandaran berdasarkan analisis A’WOT yang diprioritaskan adalah pengembangan budidaya pertanian berkelanjutan untuk memanfaatkan potensi luas lahan pertanian (pertanian, perkebunan dan perikanan).id
dc.description.sponsorshipPusbindiklatren Bappenasid
dc.language.isoidid
dc.publisherIPB (Bogor Agricultural University)id
dc.titleKeterkaitan Antar Sektor Untuk Peningkatan Perkembangan Wilayah Kabupaten Pangandaranid
dc.title.alternativeInter-Sector Linkages for Increasing Regional Development of Pangandaran Districtid
dc.typeThesisid
dc.subject.keywordInput-Outputid
dc.subject.keywordLeading sectorid
dc.subject.keywordregional developmentid
dc.subject.keywordLQ and SSAid


Files in this item

Thumbnail
Thumbnail
Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record