| dc.description.abstract | Kualitas ekstrak etanol daun sirih merah sebagai tanaman obat ditentukan
oleh metabolit sekunder yang dipengaruhi oleh kondisi geografis dan lingkungan
tumbuh tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan sirih merah dari
berbagai daerah di Indonesia berdasarkan analisis sidik jari metabolit sekunder
dan nilai sitotoksisitas. Pengamatan keragaman matabolit sekunder ekstrak etanol
daun sirih merah berasal dari tujuh daerah berbeda (Banda Aceh, Bandung, Bogor,
Malang, Samarinda, Kendari, Jayapura) yang dilakukan dengan pendekatan
metabolomik menggunakan kromatografi cair-spektroskopi massa (LC-MS/MS)
dan penentuan nilai sitotoksisitas dengan metode Brine Shrimp Lethality Test
(BSLT). Analisis sidik jari metabolit sekunder menggunakan analisis kluster
dengan dendrogram menghasilkan 12 senyawa dengan 3 kelompok sampel
berdasarkan daerah asalnya yaitu kelompok 1 (Banda Aceh, Samarinda,
Jayapura); kelompok 2 (Bandung, Kendari, Malang); kelompok 3 (Bogor).
Sampel kelompok 1 teridentifikasi 8 senyawa yang memiliki nilai kelimpahan
relatif tertinggi. Sampel kelompok 2 teridentifikasi 3 senyawa yang memiliki nilai
kelimpahan relatif tertinggi. Sampel kelompok 3 memiliki 1 senyawa dengan nilai
kelimpahan relatif tertinggi. Masing-masing senyawa memiliki waktu retensi yang
berbeda-beda. Nilai sitotoksisitas (LC50) ekstrak etanol daun sirih diperoleh
ekstrak paling aktif berasal dari daerah Banda Aceh dan Malang (2,64 μg/mL).
Simpulan dari penelitian ini berdasarkan hasil analisis sidik jari metabolit
sekunder dan nilai sitotoksisitas teridentifikasi 12 senyawa dengan tiga kluster
keragaman metabolit sekunder berdasarkan daerah asalnya yaitu kelompok 1
(Banda Aceh, Jayapura, Samarinda); kelompok 2 (Bandung, Kendari, Malang);
kelompok 3 (Bogor). | id |